oleh

Dor..!! Ngabuburit ‘Perang’ Dengan Meriam Bambu

Nganjuk-Banyak cara dilakukan untuk menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh anak-anak di Desa Mungkung Kecamatan Rejoso, mereka menunggu saat-saat buka puasa sambil berperang dengan menggunakan meriam bambu.

Sore ini, anak-anak di Desa Mungkung Kecamatan Rejoso, punya cara sendiri untuk menanti waktu berbuka puasa. Bertempat di belakang halaman rumah, mereka mempersiapkan dua buah bambu yang telah dimodifikasi layaknya meriam.

Di pekarangan yang cukup luas itu, ternyata ada dua kubu yang sama-sama menata meriamnya. Mereka saling berhadap-hadapan layaknya tentara akan berperang. Posisi mereka pun ada yang merayap, ada pula yaang memanggul meriam bambu itu. Anak-anak lainnya bersorak untuk mendukung para pejuangnya untuk bertempur di medan laga.

Untuk memainkan meriam bambu ini, yang diperlukan hanyalah batang bambu, air dan karbit sebagai pemicu ledakan. Bambu dengan panjang sekitar 1,5 meter itu dibiarkan berlubang pada bagian ruasnya. Dan di bagian belakang diberi lubang kecil sebagai pemicu ledakan.

Lalu karbit yang telah disiapkan terlebih dahulu dimasukkan ke dalam batang bambu. Selanjutnya, air dimasukkan ke dalam batang bambu. Usai diberi air, semua lubang ditutup agar uap karbit tidak keluar. Setelah dibiarkan beberapa detik, uap karbit diperkirakan sudah memenuhi isi bambu,  barulah semua lubang dibuka daan disulut api pada lubang kecil tadi.

Dor..dor..dor..perangpun dimulai, layaknya sebuah meriam pada jaman dahulu. Lucunya lagi, sebelum pemicunya disulut api, ada anak yang memberikan komando. Sehingga suara ledakan itu seakan beruntun. Meski suara meriam bumbung ini membuat bising dan memekakkan telinga, namun anak-anak mengaku senang memaikan meriam bambu. Mereka setiap sore jelang magrib, selalu membunyikan meriam bambunya untuk perang-perangan.

Rudi salah satu anak yang gemar bermain meriam bambu mengaku bangga karena meriamnya mempunyai suara lebih keras dari meriam milik temannya. Dia memakai bambu pethung untuk bahan dasar meriamnya. “Punya saya bambu pethung, bambunya lebih besar, jadi suaranya lebih keras,” katanya.

Meski cukup berbahaya, anak-anak ini sudah terbiasa bermain meriam bambu. Selain itu, bermain meriam bambu hanya dilakukan setiap bulan puasa, sehingga sangat berkesan karena setahun hanya membunyikan selama sebulan. Di samping sebagai ajang bermain, juga untuk menanti waktu berbuka puasa tiba dan membuat suasana kampung ramai.

Reporter : agus bima

Komentar

News Feed