oleh

Sinetron Pengaruhi Pendidikan Karakter

Nganjuk – Televisi merupakan media komunikasi paling efektif untuk menyampaikan pesan dan mempengaruhi orang lain. Jika mengamati setiap keluarga yang ada, maka salah satu barang pokok yang ada di setiap rumah adalah televisi.

Saat ini, hampir seluruh keluarga memiliki televisi. Dengan kata lain, akses informasi melalui televisi bisa diterima oleh hampir setiap keluarga.

Beragam acara ditawarkan oleh stasiun televisi, baik lokal, nasional, dan internasional. Acara yang mendominasi di stasiun televisi adalah sinetron kecuali stasiun tv berita.

Secara umum, hampir sebagian besar slot waktu stasiun TV didominasi oleh sinetron. Mulai dari prime time atau waktu yang menjadi waktu utama hingga pagi hari ketika aktivitas luar rumah tinggi.

Begitu mendominasinya, hal itu turut mempengaruhi pendidikan karakter anak ” Apalagi kalau sinetron ditayangkan di jam setelah pulang sekolah hingga malam,” ungkap drs Subagjo Hidajanto M,si pengamat pendidikan Nganjuk.

Menurut Yanto sapaan akrab Subagjo Hidajanto melihat merebaknya berbagai sinetron saat ini seperti sinetron india misalnya, secara tidak disadari kita sedang mengarah kepada pembentukan sistem nilai sesuai dengan apa yang ditampilkan di dalam sinetron tersebut.

“Ketika cerita sinetron menampilkan konflik si kaya dan miskin, seorang kaya dikesankan dengan kemewahan dan kekuasaan yang diukur dari banyaknya harta dan tingginya jabatan. Sedangkan si miskin ini hidup dengan seadanya dan kekurangan secara materi. Hal tersebut seperti menyampaikan sistem nilai yang dibawa oleh kapitalisme bahwa siapa yang kaya dia adalah orang yang memiliki banyak harta. Inikan contoh kurang pas tentunya,” jelas pria berkacamata tersebut.

Beberapa jenis sinetron kata Yanto, saat ini membawa dampak negatif bagi pemirsa. Tayangan yang membawa cerita mistik mengarahkan kepada keterbelakangan mental dan syirik terhadap Sang Maha Pencipta. Keterbelakangan mental dalam hal ini adalah menggambarkan betapa hebatnya jin dengan kekuatan-kekuatannya sehingga manusia seolah menjadi takut dan mendorong manusia takut.

“Ketika orang menonton sinetron jenis ini, orang tersebut akan merasa bahwa setan itu senantiasa nyata dan menakuti manusia bahkan bisa membunuhnya. Di sisi lain, ketika manusia percaya adanya setan dan merasa takut maka sebenarnya kita sudah masuk kepada rasa syirik kepada Maha Pencipta. Rasa takut tersebut disebabkan karena suguhan dari tayangan yang mengesankan zat yang gaib lebih kuat dari manusia” imbuhnya.

Selain itu, ujar Yanto, jenis sinetron yang membawa dampak buruk adalah sinetron dengan unsur cinta yang kuat. Dalam hal ini sistem nilai kembali mengalir deras. Sepasang anak muda dibuat tidak berdaya dan putus asa karena dipisahkan dengan kekasihnya. Di antara persoalan hidup lain, cinta digambarkan sebagai sebuah persoalan hidup yang amat sulit. Tidak tampak usaha yang keras untuk bertahan hidup dan kerja keras dalam bertahan hidup.

Untuk itu, lanjut Yanto merupakan tanggung jawab seluruh lapisan element masyarakat terutama para orang tua untuk membendung dampak dari tayangan sinetron yang disuguhkan televisi, ” Karena ini dirumah menjadi tanggung jawab setiap orang tua atau wali murid untuk memberikan penjelasan, bukan justru malah mengajak menonton sinetron.” pungkas Yanto seraya tersenyum.

Reporter : agus bima

Komentar

News Feed