oleh

Bermunculan Transportasi Online, Terminal Bratang, Kian Ditinggal Penumpang

Surabaya- Terminal bus angkutan kota Bratang Surabaya saat ini kian ditiggalkan oleh penumpang. Padahal jika dilihat saat ini kondisi terminal jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Bukan tanpa sebab, angkutan online menjadi salah satu faktor sepinya penumpang di terminal wilayah Surabaya Timur tersebut, “Lebih memilih angkutan online,” ungkap Rudi 51 kondektur Bus Kota jurusan Bratang Purabaya Bungurasih saat berbincang dengan akurasinews.com Senin (10/07/2017) pagi pukul 09.00 WIB

Kondisi ini, lanjut Rudi sudah sejak beberapa tahun belakangan, dimana banyaknya sepeda motor dengan harga kredit murah, ” Dengan uang muka ringan dan cicilan ringan pula, masyarakat lebih memilih membeli motor, daripada naik bus kota,” katanya.

Selain itu, sepinya terminal Bratang juga disebabkan dengan banyaknya bermunculan transportasi online sejak dua tahun terakhir di kota terbesar kedua di Indonesia ini, ” Sekarang calon penumpang tidak usah repot-repot menunggu Lyn atau Bemo (sebutan angkutan kota di Surabaya-red), dengan menekan hand phone ojek atau mobil sudah datang kerumah dengan biaya yang katanya juga tidak lebih mahal, malah lebih murah” tutur pria asli Jombang tersebut.

Akibatnya, saat ini armada bus kota yang ada di terminal Bratang dari 32 unit, saat ini tersisa hanya 18 unit saja, “Semua dari swasta, Damri milik Dishub tidak di Bratang, delapan belas itu dari beberapa PO (perusahaan oto bus) saya ini dari PO dua putra tinggal dua unit, kalau yang masih banyak itu milik Akas,” ungkap Rudi.

Bapak dua orang anak dengan seorang cucu ini mengaku, saat ini pendapatanya sebagai kondektur sekaligus kenek bus kota menurun hingga lima puluh persen lebih, “Ya secara otomatis sangat berpengaruh, penumpangnya saja tidak ada,” tambahnya.

Pantauan akurasinews.com, terminal Bratang yang dulunya sangat ramai apalagi di hari hari aktif, saat ini kondisinya memang sangatlah sepi, bahkan bus kota jurusan Bratang ke terminal Purabaya Bungurasih berangkat dengan mengangkut 10 penumpang saja, ” Kalau dulu dalam waktu 20-30 menit bus sudah penuh, sekarang ya seperti ini kalau dari Bratang,” ucap Rudi.

Pendapatanya, tertolong dengan keberangkatan dari terminal Purabaya Bungurasih ke Bratang, dimana dalam waktu 30 menit rata-rata selalu penuh, “Kalau dari Bungurasih ke Bratang sampai sekarang selalu penuh,” jelasnya tanpa mau menyebut jumlah penghasilanya antara dulu dan saat ini.

Rudi yang mengaku setiap hari pulang ke Jombang sejak tahun 1993 ini tetap bertahan menjadi kondektur bus karena memang sudah menjadi pilihannya, “Sudah lama, mau kerja apalagi. Dulu juga pernah ‘jalan’ (sopir-red) angkudes di Jombang sebelum sembilan tiga (1993-red), saya syukuri saja, apalagi sekarang saya sudah punya seorang cucu,” kata Rudi mengakhiri perbincangan seraya tersenyum.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed