oleh

Kisah Nestapa, Nenek Lansia di Barak Penampungan Pemda

Nganjuk – Cerita hidup nenek Patonah (78) begitu mengharukan. Di usia senjanya, dia harus berjibaku menjaga dan mengasuh Linda (7), yang kedua orang tuanya telah meninggal sejak masih berusia 4 tahun. Tinggal di sebuah petak sempit dengan dinding dari anyaman bambu (gedek-jawa) berukuran 3×3 meter, pengungsi asal Aceh tersebut belakangan sering sakit-sakitan.

Nenek Patonah adalah salah satu dari puluhan pengungsi asal Aceh yang tinggal di barak penampungan Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Nganjuk yang ada di Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono.

Kulitnya yang sudah keriput, rambutnya yang sudah berubah warna, nenek yang bernasib kurang beruntung ini tetap meladeni ajakan bermain cucunya meski hanya bercengkrama di sekitar petak reot yang sudah bertahun-tahun ditempatinya secara gratis.

Sungguh ironis memang, kondisi nenek Patonah, di Kabupaten yang sebentar lagi mengadakan ‘pesta’ demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada), Peraturan Daerah (Perda) tentang kesejahteraan lanjut usia (lansia) juga telah digodok oleh DPRD. Nenek Patonah seolah luput dari perhatian, padahal dia tinggal di barak pengungsian milik Pemerintah Daerah (Pemda).

Bahkan, nenek Patonah pernah terpaksa tidur di sebelah WC umum Desa Pandantoyo Kertosono karena saat hujan petak reot yang ditempatinya bocor. Sangat tragis memang, hanya untuk sekedar makan nenek Patonah harus membanting tulang kerja apa saja yang penting mendapat beras untuk diberikan kepada Linda cucu kesayanganya.

Pagi ini, secercah sinar harapan menghampiri nenek Patonah, begitu mendapat informasi tentang kondisi nestapa nenek Patonah, Kepala Kepolisian Sektor Kertosono, Kompol Abraham Sissik S,sos, SH,MH langsung mengunjungi barak penampungan reot itu, untuk memberi santunan berupa paket sembako dan uang tunai.

“Dia (Nenek Patonah-red) salah satu lansia yang luput dari perhatian Pemerintah Daerah, sungguh sangat kasihan, usianya sudah senja, harus merawat cucunya yang masih tujuh tahun seorang diri, kedua orang tuanya meninggal saat cucunya itu masih usia empat tahun,” kata Kompol Abraham kepada akurasinews.com Rabu (26/07/2017) pagi ini.

Kepada Kompol Abraham, Nenek Patonah mengatakan setiap malam, dia dan cucunya merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, sehingga sering jatuh sakit, “Mulai saat ini nenek Patonah akan mendapat perhatian khusus dari Polsek Kertosono, sungguh kasihan dia, petak yang dia tinggali dindingnya dari anyaman bambu, atapnya bocor kalau hujan, ukuran kecil, kondisi di dalamnya kumuh, waduh sungguh tidak layak,” jelas Kompol Abraham.

Nenek Patonah tidak berharap banyak, di usia senjanya dia hanya ingin cucunya bisa makan dengan kenyang, ketika sudah waktunya masuk sekolah, mendapat pendidikan gratis tidak sampai terlantar di jalan.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed