oleh

Begini Pendapat dan Pesan Tomas, Tentang Pemimpin Negara, Maupun Pilkada

Nganjuk- Kalem, santun dan berwibawa, begitu kesan pertama ketika akurasinews.com bertemu dengan seorang  tokoh masyarakat (tomas) asal Kelurahan Warujayeng Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk Jawa Timur ini, jauh dari kesan tegas meskipun dia adalah purnawirawan Tentara Nasional Indonesia.

Dialah H Wiyono, sebagian masyarakat mungkin sudah mengenal purnawirawan Angkatan Darat ini sebagai mantan Kepala Kantor Bidang Sosial Politik (Kakansospol) Pemerintah Kabupaten Nganjuk sekaligus mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nganjuk era orde baru.

“Sembilan belas tahun berkarir di militer, dua puluh tahun di politik,” ujar kakek lima orang cucu ini saat berbincang dengan akurasinews.com, Rabu (09/08/2017) pagi ini, di salah satu rumah makan di wilayah Warujayeng Tanjunganom Nganjuk.

Banyak pengalaman diceritakan H Wiyono ketika masih aktif sebagai seorang anggota TNI AD, maupun ketika menjabat sebagai Kakansospol Pemkab Nganjuk, “Ipoleksosbudhankam” kata itu yang sering diulang tokoh masyarakat kelahiran 1938 tersebut.

“Bicara tentang Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan, dan Keamanan untuk masyarakat, saya merasa saat ini sudah jauh beda jika dibanding dengan pemerintahan dahulu, dimana dulu keamanan masyarakat betul-betul diperhatikan, kebutuhan masyarakat tidak semahal sekarang, kebudayaan tumbuh subur di masyarakat dan ideologi Pancasila terjaga” tutur H Wiyono

Di era reformasi seperti sekarang ini, kata H Wiyono, dibutuhkan seorang pemimpin yang mumpuni dan mampu bertindak tegas untuk mewujudkan  Ipoleksosbudhankam, “Bukan berarti pimpinan negara kita saat ini tidak tegas, namun saya menilai agak terlambat dalam mengambil kebijakan, bukan karena masalah basik militer atau tidak, Bung Karno Presiden pertama RI (Republik Indonesia-red) itu juga bukan militer, beliau seorang teknokrat,” ungkapnya

Pemerintah itu, kata H Wiyono memiliki tiga tanggung jawab penting terhadap bangsa atau rakyat, pertama, harus bisa memberikan rasa aman, nyaman dan tenteram, kedua harta nyawa dan  kekayaan masyarakat terjaga, ketiga memberi ruang khusus kepada masyarakat untuk berbudaya sesuai dengan ideologi luhur Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945

“Bukan berarti pemerintahan di era orde baru atau orde lama itu sempurna, kalau kita melihat kondisi masyarakat saat ini, dimana tindak kriminalitas merajalela, itukan ancaman harta benda dan nyawa, lahirnya ormas-ormas tanpa di saring apa tujuan pembentukannya, itukan ancaman ideologi sekaligus budaya karena tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, ini yang harus menjadi perhatian khusus seorang pemimpin Negara,” urainya

Pria yang memutuskan hengkang dari dunia politik Anjuk Ladang sejak 1998 tersebut berharap, menjelang suksesi 2018 mendatang para politisi terutama yang duduk di kursi wakil rakyat lebih cermat dalam memilih kandidat bakal calon bupati (bacabup) maupun bakal calon wakil bupati (bacawabup)

“Sembilan dua (1992-red) saya duduk di kursi DPRD Nganjuk dari Golkar, setelah reformasi sembilan delapan (1998-red) saya putuskan tidak lagi masuk dunia politik, selain karena memang sudah purna dari TNI, saya juga ingin di usia yang sudah tidak lagi muda ini, menikmati momong cucu, usaha biar anak-anak yang menjalankan,” tuturnya.

“Saya hanya ingin pesan, kepada politisi terutama para anggota DPRD Nganjuk dapat memilih seorang bacabup dan bacawabup yang terbaik untuk Kabupaten Nganjuk, jangan hanya melihat kekayaan atau elektabilitas saja, namun kecakapan dalam memimpin dan terutama ideologinya, harus yang berpegang teguh terhadap Pancasila, UUD 19945, dan Bhineka Tuggal Ika,” harap H Wiyono

Reporter : Agus Bima  

Komentar

News Feed