oleh

Mengenal Anggota Resmob Nganjuk, Mulai ‘Tantang’ Pesulap, Hingga Ngetrail di Medan Ekstrim

Nganjuk- Tegas, jantan, macho, sedikit seram, begitu kesan yang terlihat ketika anggota reserse mobil (resmob) Satreskrim Polres Nganjuk bertugas mengenakan pakian tactical lengkap dengan laras panjang di genggaman.

Image tegas dengan bumbu sedikit kejam, seolah sudah menjadi plat anggota kepolisian yang menempati fungsi memburu para pelaku kriminalitas tersebut. Berpakian preman, rambut gondrong lengkap dengan sejumlah aksesoris di tangan, leher maupun rambut, sebagai salah satu bentuk penyamaran menjadi pakaian dinas sehari-hari.

Namun, apabila kita mengenal lebih dekat, para anggota pengayom dan pelindung masyarakat ini, sebetulnya tidaklah beda dengan masyarakat pada umumnya, begitu membaur dengan masyarakat, canda, tawa, gurau seolah menjadi bumbu keseharian.

Seperti ketika belasan anggota resmob berkumpul di kantin Dinas Perhubungan Pemerintah Kabupaten Nganjuk usai melakukan pengamanan eksekusi lahan di wilayah Sukomoro, dengan masih mengenakan pakaian tactical resmob, para anggota bergurau dengan berbagai macam tema candaan.

Bahkan, ketika ada seorang pedagang dompet dan jam tangan sekaligus menawarkan sejumlah trik sulap, Kasubnit resmob wilayah Nganjuk barat Aiptu Agus Darmanto dengan lantang menantang pedagang trik sulap itu, dengan nada canda.

“Trik ini harganya empat puluh ribu bapak,” kata pedagang yang mengenalkan diri dengan nama Mbah Bagong saat atraksi dengan sehelai kain berwarna merah, yang tiba-tiba hilang begitu digenggam dan diusapkan ke wajah.

“Begini saja, silahkan kain itu diselipkan ke tangan ini, kalau bisa hilang, langsung tak bayar lima ratus ribu rupiah,” timpal Aiptu Agus Darmanto seraya menunjukkan tangan kanannya, sontak kata-katanya disambut tawa seluruh anggota kepolisian yang ada di kantin.

Serangkaian trik sulap yang ditawarkan penjual asal Solo tersebut dipatahkan oleh Aiptu Agus Darmanto, namun ketika penjual dompet dan jam tangan itu mengeluarkan sebuah lampu kecil berwarna merah kemudian ditelan dan tiba-tiba muncul ditangan, dengan logat jawa kental Aiptu Agus Darmanto berkomentar

“Nek sing iki mak, aku urong sinau (kalau yang ini (trik sulap-red) pak, aku belum mempelajarinya,” katanya, tawa para anggota menjadi lebih ramai terdengar di kantin yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Daerah Kabupaten Nganjuk tersebut.

Lain halnya dengan Aiptu Huda Hidayana, Kasubnit resmob wilayah Nganjuk timur tersebut ketika lepas dinas lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta dan ngetrail di sejumlah wilayah Nganjuk yang menantang

“Untuk menghilangkan kejenuhan saja, kalau tugaskan dua puluh jam, memang ada jadwal lepas dinas, namun begitu ada kepentingan kedinasan, harus berangkat, tidak tawar menawar dengan kondisi apapun, tugas ya tugas,” tutur Aiptu Huda.

Selain itu, kata Aiptu Huda Hidayana, manfaat olahraga ngetrail itu sangat banyak, diantaranya untuk menjalin persaudaraan, sekaligus menambah relasi dan koneksi “ Saat event adventure, itu diikuti oleh semua lapisan masyarakat, dari motor trail “odong-odong” sampai motor trail ratusan juta, kita jadi kenal,” jelasnya.

Trail, kata Aiptu Huda lagi, adalah olahraga yang melatih konsentrasi dan fokus, melatih fikiran sehingga cepat dalam mengambil sebuah keputusan sekaligus mengukur kemampuan diri sendiri, “ Saat ngetrail itu tidak hanya keberanian, tapi juga fokus dan teliti, bagaimana kondisi motor kita, medan seperti apa, itu membutuhkan konsentrasi agar tidak sampai terjadi accident (kecelakaan-red),” urainya.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed