oleh

Pemuda Nganjuk Yang Tewas di Pantai Sampit, adalah Tulang Punggung Keluarga

Nganjuk- Kepulangan jenazah Muhamad Khanif pemuda asal RT 001, RW 006, Dusun Dlopo Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang mayatnya ditemukan di pantai Pandaran, Sampit, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah Kamis (17/08/2017) pukul 05.00 WITA lalu, disambut tangis histeris keluarga. Sabtu (18/08/2017).

Keluarga pasangan suami istri (pasutri) Tohari dan Tarwiyah tersebut tak percaya jika anak sulungnya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga pergi untuk selama-selamanya, “ Korban ini adalah tulang punggung keluarga, adiknya masih sekolah, sedangkan kedua orang tuanya bekerja serabutan, tidak tentu penghasilannya,” ujar Santoso Kepala Desa Kepel, Ngetos, Nganjuk.

Bahkan, Tohari dan Tarwiyah histeris memeluk keranda janazah putra sulungnya itu, sampai dipapah pihak keluarga, “Mengenai kematian korban, pihak keluarga intinya mengikhlaskan, apalagi meninggal karena kecelakaan saat bekerja,” terang Santoso.

Setelah disholatkan, jenazah langsung dibawa ke tampat pemakaman umum (TPU) desa setempat, “ Ini langsung, kita sholati kemudian dimakamkan, kebetulan semua sudah dipersiapkan, karena memang sudah sejak kemarin lusa kami mendapat kabar,” tandas Santoso.

Seperti diberitakan akurasinews.com, kabar kematian Muhamad Khanif pemuda asal RT 001, RW 006, Dusun Dlopo Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang mayatnya ditemukan di pantai Pandaran Sampit, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah Kamis (17/08/2017) pukul 05.00 WITA, membuat shock pihak keluarga.

Pemuda kelahiran Nganjuk, 17 Mei 1994 tersebut adalah putra pertama pasangan suami istri (pasutri) Tohari (47) dan Tarwiyati (45), keduanya terlihat shock setelah mendapat kabar dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Kabupaten Nganjuk tentang kematian putra tercintanya.

“Delapan hari lalu kami mendapat kabar dari petugas Basarnas Kalimantan Selatan, putra kami mengalami kecelakaan di laut, dan masih dicari petugas, kami tidak menyangka kalau ternyata ditemukan pagi tadi sudah meninggal,” kata Tohari dengan mata sembab seolah menahan air mata.

Tohari mengaku, kemarin malam atau sehari sebelum mendapat kabar anaknya ditemukan warga di pantai Pandaran Sampit, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah, mimpi bertemu dengan anaknya, “Saya mimpi, dia (korban-red) pulang diantar oleh pria yang memakai jubah putih, ternyata ini adalah pelambang kalau dia sudah meninggal,” tutur Tohari, didampingi istrinya Tarwiyati yang terus mengeluarkan air mata.

Korban sebetulnya sudah lama bekerja di batubara sudah sejak enam tahun yang lalu, “Sudah enam tahun bekerja di batubara, Banjarmasin sana. Tapi terus pindah perusahaan, dan di perusahaan yang baru ini baru bekerja selama tiga hari sebagai operator alat berat,” timpal Budi saudara korban.

Kecelakaan yang dialami korban itu berawal ketika korban istirahat, pamit kepada temannya untuk buah air besar di sisi kapal tongkang, diduga karena terpeleset korban tenggelam, “Itu keterangan dari teman kerja Mas Khanif, ketika buang air besar di sisi kapal tongkang terpeleset ke laut,” jelas Budi.

Kecelakaan itupun langsung dilaporkan aparat dan basarnas serta pimpinan perusahaan tempat korban bekerja, “Petugas informasinya juga langsung melakukan pencarian, dan baru tadi kami mendapat informasi ditemukan di pantai itu,” papar Budi.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed