oleh

Asisten Deputi Kemenpar RI ‘Sentil’ CEO Nganjuk

Nganjuk- Panorama wisata alam Bumi Anjuk Ladang (Nganjuk) seolah menjadi magnet wisatawan domestik (lokal Nganjuk maupun luar wilayah). Namun sayang potensi yang sudah disediakan alam  tersebut seolah kurang digarap secara maksimal, sehingga belasan destinasi wisata alam yang ada seakan dibiarkan begitu saja.

Padahal jika potensi tersebut digarap dengan baik akan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagaimana dengan yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo dengan program 10 Destinisai Wisata Prioritas atau pengembangan “10 Bali baru”.

“Begini, untuk Nganjuk ini potensi wisata alamnya cukup menggeliat, tinggal bagaimana cara menggarap potensi yang sudah ada itu, tanpa mengecilkan CEO (Chief Executive Officer/Pejabat Eksekutif Tertinggi) daerah setempat, ini memang harus digarap secara serius,” ujar Plt Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementrian Pariwisata RI, Hariyanto di lobi Gedung Pertemuan Nirwana Hotel Nganjuk. Selasa (22/08/2017) kepada akurasinews.com

Menurut Hariyanto, saat ini Kementrian Pariwisata tengah gencar menjalankan program “10 bali baru”, dengan demikian diharapkan pemerintah daerah di seluruh Indonesia juga melakukan hal yang sama untuk mengimbangi program tersebut, “Kalau untuk anggaran, tahun ini empat triliun, anggaran itu untuk Nasional,” paparnya.

Selain itu, kata Hariyanto lagi, pengembangan destinasi wisata itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun lebih pada kultur dan budaya masyarakat bagaimana melakukan upaya agar wisata alam yang ada di masing-masing daerah menjadi dikenal.

“Apalagi kalangan muda saat ini sudah sangat familiar dengan sosial media, facebook, internet, twiter dan lain-lain, bagaimana masyarakat lokal melakukan sebuah upaya promosi, itu yang penting,” kata Hariyanto, usai acara Sosialisasi Panduan Penyelenggaraan Festival tadi siang.

Pemerintah, kata Hariyanto lagi, intinya hanya mendorong dan ikut mempromosikan namun tanpa disertai dengan kreatifitas masyarakat lokal dimana destinasi wisata itu berada, seakan tidak akan ada artinya.

“Saya contohkan bali, provinsi penyumbang devisa terbesar Negara sektor pariwisata, tahun dua ribu enam belas kemarin, angggaran untuk dinas pariwisata hanya tujuh miliar rupiah, habis itu untuk satu event saja, tapi karena masyarakat lokal sana (bali-red) pro aktif, puluhan destinasi wisata dan budaya tetap menjadi daya tarik wisatawan,” jabarnya.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed