oleh

Sekolah Rakyat, Edukasi Masyarakat Untuk Berwira Usaha

Nganjuk- Cantik dan periang, begitu kesan pertama ketika akurasinews.com bertemu dengan wanita berhijab ini. Dialah Nur Imamah, siapa mengira seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kementrian Departemen Agama Nganjuk ini adalah seorang relawan pendidikan rakyat.

“Sekolah Rakyat” begitu dia menyebut nama sekolah yang digagasnya di Dusun Petung Ulung, Desa  Margopatut, Kecamatan Sawahan dan Desa Kweden Kecamatan Ngetos, pada Juni 2016 lalu. Agak awam mungkin ditelinga masyarakat umum dengan nama sekolah tersebut, karena biasanya masyarakat mengenal sekolah formal tingkat pendidikan anak usia dini hingga SMA/MA/SMK.

Gagasan mengenai sekolah rakyat, kata Nur Imamah bermula dari keinginannya mendirikan sekolah alam untuk anak-anak putus sekolah karena kondisi ekonomi, “Gagasan itu sudah ada sejak saya masih duduk di bangku kuliah,” kata Sarjana Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang dulu bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya tersebut. Jumat (25/08/2017)

Keinginan Nur Imamah baru terwujud setelah berkarir di dunia pendidikan Anjuk Ladang (Nganjuk), keinginan untuk mentransformasi ilmu yang dia miliki kepada anak putus sekolah ternyata tak seperti yang diharapkan, “Ternyata malah bukan anak-anak, begitu membuka Sekolah Rakyat di Petung Ulung, justru peminatnya adalah ibu-ibu dan bapak-bapak,” paparnya.

Karena itu, lanjut Nur Imamah, metode pengajaranpun dirubah dengan pola edukasi, “Jadi yang putus sekolah dan mengenyam bangku pendidikan hanya sampai sekolah dasar (SD) adalah orang tuanya, karena mereka miskin, polapun mengikuti, bukan pelajaran formal, namun lebih pada bagaimana mengajarkan penduduk desa untuk membuka usaha,” terangnya.

Edukasi Untuk Berwira Usaha

Dengan pola itu, kata Nur Imamah lagi, penduduk yang semula takut dan ragu untuk membuka usaha  karena minimnya pengetahuan serta modal, di sekolah rakyat diberi edukasi tentang berwirausaha, “Di sekolah rakyat, warga (peserta didik,Red) diberi kebebasan untuk memilih peluang usaha, mulai pertanian, kuliner, konveksi, kerajinan bambu, hingga manajemen bisnis, dan relawan yang memberikan pengarahan adalah orang-orang dari bidang masing-masing,” urainya.

Kuliner misalnya, sebut Nur Imamah, relawan yang memberi edukasi peserta didik adalah Ninik Widowati pemilik dapur Kota Angin Nganjuk, “Beliaukan owner dapur kota angin jadi sangat pas memberi edukasi dibidang kuliner, untuk pertanian ada Pak Joglo Nganjuk dan Pak Saikhu, sedangkan untuk kerajinan bambu ada Bu Nindi, yang terbaru relawan bidang menajamen bisnis Pak Supriadi, beliau-beliau berkompeten di bidang masing-masing,” ungkapnya.

Bukan hanya edukasi, di sekolah rakyat juga diajarkan mekanisme penjualan produk, “Jadi bukan hanya edukasi tentang bagaimana cara wirausaha, namun kami juga membantu bagaimana cara pemasaranya, kita bantu carikan pangsa pasar juga,” jabar Nur Imamah.

Tujuan, ucap Nur Imamah didirikannya sekolah rakyat adalah merubah pola fikir masyarakat terutama yang kurang mampu untuk lebih berfikir maju dengan berwira usaha, “Bukan berarti program raskin (beras untuk masyarakat miskin-red) itu salah, tapi faktanya jumlah penduduk miskin tidak berkurang, karena dibiasakan diberi secara langsung, kita ingin merubah mental peminta menjadi mental pengusaha,” tandasnya.

Sumber Dana Patungan

Mengenai sumber dana, Nur Imamah mengatakan jika sekolah rakyat tersebut tidak ada campur tangan pemerintah daerah, dengan penuh kesadaran relawan dan peserta didik patungan setiap hari menyisihkan uang Rp 2000 sebagai sarana proses edukasi.

“Mungkin orang menganggap saya gila, saya bukan pejabat atau orang hebat yang kaya, tapi biarlah ini sudah menjadi tekat sejak masih kuliah dulu, sekarang saya pengawas di Kemenag, baru bisa mewujudkan keinginan itu, sehari warga (peserta didik-red) menyisihkan uang dua ribu rupiah, jadi murni mereka patungan, tanpa campur tangan pemerintah,” ungkap Nur Imamah.

Untuk saat ini, jumlah peserta didik sekolah rakyat di Kweden mencapai 123 orang, usia antara 20 tahun hingga 65 tahun, untuk sekolah dilaksanakan seminggu dua kali waktu pelaksanaan menyesuaikan, “ Kalau ibu-ibu biasanya jam sebelas siang setelah pulang dari sawah, bebas sambil momong anak atau momong cucu boleh, bapak-bapak jam dua siang setelah pulang dari sawah,” papar Nur Imamah.

Dipilihnya Petung Ulung dan Kweden sebagai sekolah rakyat, karena di dua desa tersebut terdapat potensi wisata dan oleh pemerintah desa diubah menjadi desa wisata, sehingga masyarakat diberi edukasi bagaimana cara mengambil peluang dari potensi yang disediakan alam tersebut

Reporter : Agus Bima     

 

 

Komentar

News Feed