oleh

Gajah Belor ke Warujayeng ‘Lewat’ Terowongan ‘DOZ’

Nganjuk- Ada-ada saja canda di warung kopi ketika mengomentari fasilitas umum (fasum) berupa tanda penunjuk arah yang rusak. Seperti tanda penunjuk arah di pertigaan Desa Gajah Belor, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Candaan itu diucapkan para penikmat kopi di warung pertigaan yang menjadi jalur utama ke arah Kota Nganjuk. Kabupaten/Kota Kediri dan Arah Kelurahan Warujayeng Kecamatan Tanjunganom, dari Desa Gajah Belor ketika ada seorang pengendara motor melontarkan pertanyaan.

“Warujayeng Niku Ngetan Nopo Ngilen Pak,” (Warujayeng itu ke timur apa barat pak),” kata seorang pria berkumis berkaos merah bertanya kepada sejumlah pengunjung warkop Gajah Belor tanpa melepas helm warna biru yang dipakainya, Minggu (03/09/2017) pagi ini.

Seorang pemuda yang berada di luar warung sambil menghisap sebatang rokok dengan sopan menjawab pertanyaan pria yang mengaku dari Tulungagung tersebut, “La niku pak wonten penunjuk arahe, jenengan ngetan pak, (Itu ada petunjuk arahnya pak, anda ke arah timur pak),” ucap pemuda yang mengaku bernama Rudi itu menjawab pertanyaan.

Dengan mimik wajah seperti orang bingung, pengendara itu sambil tersenyum kembali berkata, “Masse niki seneng guyon ngih, kulo sangking Tulungagung, wau dateng Tarokan, terus niki bade teng Warujayeng (Masnya ini suka bercanda ya, saya dari Tulungagung, tadi itu di Tarokan terus mau ke warujayeng),” kata pengendara motor sambil menepuk punggung Rudi.

Perkataan itu membuat para penikmat kopi sekaligus akurasinews.com yang juga ikut nimbrung didalam warung ikut memperhatikan, pengendara motor tersebut seolah bingung dengan perkataan Rudi, “Maksud jenengan pripun pak (maksud anda apa pak),” katanya menjawab.

Ternyata, pengendara motor tersebut sengaja iseng, seolah tidak faham dengan perkataan Rudi karena petunjuk arah yang ditunjuk posisinya ke tanah, “La nikulo mas, petunjuk arahe dateng tanah, nopo mriki wonten dalane teng njero tanah, kados kulo riyin kerjo dateng freeport” (Itulo mas, petunjuk arahnya mengarah ke tanah, apa sini ada jalan didalam tanah seperti saya dulu kerja difreeport),” jawabnya seraya mengajak  jabat tangan Rudi dan langsung memacu motor ke arah Warujayeng.

Sontak, candaan sekejap dari pengguna jalan itupun menjadi bahan pembicaraan penikmat kopi. “Woalah, la aku yogak merhatekne lek, tibak’e petunjuk arahe moro nyang ngisor (Aku juga tidak begitu memperhatikan om, ternyata petunjuk arahnya mengarah ke bawah,” ucap Rudi ditimpali dengan kalimat canda ala warkop oleh sejumlah warga.

Ternyata kondisi papan petunjuk arah di pertigaan Desa Gajah Belor Kecamatan Tanjunganom tersebut untuk yang ke arah Warujayeng memang mengarah ke tanah. Dimungkinkan karena memang pengendara tadi betul-betul pernah bekerja Freeport atau hanya candaan belaka, namun jika dicermati memang membingungkan.

Jika memang benar pengendara motor itu pernah menjadi karyawan Freeport dimungkinkan memang setiap hari dia melintasi bermacam-macam terowongan yang memiliki nama-nama unik. Adapun nama-nama terowongan tambang Freeport yang berhasil dihimpun akurasinews.com diantaranya adalah Deep Ore Zone (DOZ), Big Gossan, Grasberg Block Cave yang berada di dalam area underground  Gunung Grasberg Papua.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed