oleh

Gelar Aksi Solidaritas, Bonek Warga PSHT Bakar Atribut

Nganjuk- “Ora Ono Kamulyan Tanpo Paseduluran” “Salam Persaudaraan Dulur 22 di Seluruh Nusantara.” Kata-kata tersebut nampaknya yang melatar belakangi aksi solidaritas ratusan pendekar Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) Kabupaten Nganjuk.

Berkumpul di pasar Sukomoro Nganjuk, para warga PSHT dari berbagai wilayah Kecamatan menggelar aksi membakar atribut bonek (julukan suporter) Persebaya Surabaya, “Warga Setia Hati Teratai Nganjuk itu sebetulnya juga anggota bonek, jumlahnya tidak sedikit ada tiga ribu warga. Kami sengaja membakar atribut bonek sebagai bentuk solidaritas terhadap kasus yang dialami saudara kami di Surabaya,” ujar Santoso koordinator bonek Nganjuk yang juga warga PSHT tersebut. Jumat (06/10/2017) sore ini.

Anggota beserta pengurus Bonek Nganjuk yang mayoritas merupakan warga PSHT Nganjuk, memilih mundur dari keanggotaan Bonek sebagai wujud protes terhadap bentrok di Surabaya yang mengakibatkan dua warga PSHT meninggal dunia.

Aksi diawali dengan memajang spanduk bonek berukuran sekitar 15 meter kali 1,5 meter. Setelah spanduk digelar, kemudian dilipat, warga PSHT yang masih mengenakan kaos supporter bonek warna hijau kemudian dilepas ditumpuk menjadi satu dengan spanduk.

Kemudian, tumpukan kaos dan spanduk bonek dibakar sampai habis.“Hari ini, kami sebagai warga PSHT mundur sebagai anggota bonek, kami minta polisi mengusut tuntas kasus ini,” tandas Santoso didampingi ratusan warga PSHT.

Senada disampaikan wakil ketua satu PSHT Cabang Nganjuk, Arbayana, yang juga hadir dalam aksi tersebut. Menurutnya, aksi mundur dari keanggotaan Bonek oleh para warga PSHT merupakan kesadaran pribadi setiap anggota.

Pihaknya berharap agar aparat kepolisian bisa menghentikan iring-iringan Bonek yang menuju ke arah barat. Hal itu bertujuan untuk mencegah adanya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Secara organisasi maupun pribadi saya berharap permasalahan yang ada di Balongsari, Surabaya diselesaikan secara hukum. Sehingga, bisa meredam amarah dari saudara maupun adik-adik (PSHT) supaya Nganjuk lebih kondusif,” ungkapnya.

Arbaya mengutarakan, berbagai upaya sebetulnya sudah dilakukan oleh PSHT Cabang Nganjuk untuk menjaga situasi tetap kondusif, namun jika hal tersebut tidak didukung oleh upaya dari aparat penegak hukum di khawatirkan akan menimbulkan gejolak yang semakin besar.

Para “Satria Ingkang Pilih Tanding” kata Arbaya, hanya akan melawan orang yang mampu menghadapinya, bukan melawan orang yang lemah, “Kalau kami tidak melakukan upaya pencegahan, jangan ditanya “Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake”, itu selalu digenggam erat oleh warga PSHT, jadi kita berharap, kepolisian betul-betul mengusut tuntas kasus tersebut, untuk meredam situasi ini,” tandasnya.

Seperti diketahui, bentrok antara Bonek dengan warga PSHT di depan SPBU Balongsari Jl Raya Balongsari Kecamatan Tandes Surabaya, Minggu (1/10/2017) lalu. Mengakibatkan dua warga PSHT meninggal dunia.

Kedua warga PSHT itu diketahui bernama Muhammad Anis, (22) warga Jalan Simo Pomahan Gang 3, No 41, RT 08, RW 02, Kelurahan Suko Manunggal Kecamatan Sukomanunggal. Rencananya akan dimakamkan di pemakaman di TPU Simo Tambakan.

Korban Kedua, Aris Eko Ristanto (25) warga Desa Tlogorejo, Kepoh Baru Bojonegoro. Rencananya jenazah akan dimakamkan di pemakaman di TPU Telogo Teger Bojonegoro.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed