oleh

IJTI Tetapkan 11 Oktober Sebagai Hari Anti Kekerasan Terhadap Jurnalis

Jombang – Semakin maraknya kekerasan yang dialami wartawan ketika melakukan peliputan memantik reaksi keras Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Majapahit. Seperti kekerasan yang dialami para jurnalis di Banyumas saat melakukan liputan.

Untuk itu, para insan pers Kota Santri tersebut menggelar  aksi doa bersama untuk menolak kekerasan terhadap jurnalis dihalaman Graha Media depan Kantor IJTI Jombang Jalan KH Wahid Hayim, Kamis (12/10/2017) pukul 20.00 WIB.

Divisi Hukum dan Advokasi IJTI KOrda Majapahit, Amirudin Zaki dalam orasinya mengecam tindakan kekerasan aparat Kepolisian serta Satpol PP kepada wartawan saat melakukan peliputan di depan Pendopo Kabupaten Bayumas Purwokerto.

Ketika itu, para jurnalis mengabadikan pembubaran paksa aksi demo masa di depan pendopo Bayumas, namun tiba-tiba para insan pers mengalami kekerasan dari para aparat. Mulai dipukul, ditendang hingga dipaksa menghapus file foto maupun video hasil liputan mereka.

Salah satu jurnalis yang mengalami kekerasan itu adalah, Jurnalis Metro TV Darbe Tyas, dia mengalami luka memar setelah dipukuli sekaligus diinjak-injak maupun diseret paksa oleh aparat.

“Tidak hanya Darbe Tyas, wartawan cetak dari Suara Merdeka, Agus Wahyudi, Dian Aprilia serta dari Satelit Pos, Auliya Hakim dari Wahyu dari Radar Banyumas juga menjadi korban kekerasan aparat,” terang Amirudin.

Atas peristiwa itu, lanjut Amiruddin Zaky, IJTI menyatakan sikap sebagai berikut. Pertama mengutuk dan mengecam keras aksi kekerasan yang menimpa sejumlah jurnalis di Purwokerto. Kedua, menuntut pelaku kekerasan diseret ke meja hijau sekaligus dijatuhi hukuman yang setimpal. Ketiga, meminta Kapolda Jawa Tengah Beserta Kapolres Banyumas bertangungjawab penuh atas insiden kekerasan yang menimpa para jurnalis di Purwokerto. Keempat, meminta pihak Setwilda Banyumas untuk bertanggungjawab atas tindakan kekerasan tersebut, karena peristiwa itu terjadi di Lingkungan Pemda Banyumas, “Dan Kelima atau terakhir agar tanggal 11 Oktober diperingati sebagai hari anti kekerasan terhadap jurnalis,” tandasnya

Sementara itu, Ketua IJTI Korda Majapahit, Mukhtar Bagus menjelaskan, aksi ini merupakan bentuk keprihatinan kita atas tragedi penganiayaan yang terus menerus dialami oleh para wartawan, dan ironisnya pelakunya adalah aparat penegak hukum.

“Seharusnya aparat penegak hukum tahu hukum, bahwa wartawan itu dilindungi oleh undang-undang, yang notabene adalah hukum itu sendiri,” jelas Jurnalis RCTI tersebut saat ditemui akurasinews.com didepan kantor PWI Jombang.

Ketua IJTI Korda Majapahit berharap, terkait tragedi atau aksi kekerasan terhadap wartawan ini hendaknya dihentikan oleh siapapun tidak hanya oleh polisi, baik itu dari tentara atau mungkin masyarakat, hendaknya tidak melakukan aksi kekerasan lagi terhadap wartawan.

“Kita mohon kepada Dewan Pers agar segera menetapakan tanggal 11 Oktober sebagai hari anti kekerasan terhadap jurnalis Indonesia,” pungkasnya

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed