oleh

Tanggapan Kalangan “Grass Root” Tentang Elektabilitas, Popularitas dan Uang

Nganjuk- Pesta demokrasi pemilihan kepala daerah Kabupaten Nganjuk 27 Juni 2018 mendatang semakin hangat diperbincangkan. Jika para kandidat bakal calon bupati (bacabup) saat ini sibuk mengurusi rekomendasi sebagai syarat mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Yang sudah mendapat rekom sibuk menyusun serangkaian strategi untuk meningkatkan elektablitas dan popularitas sekaligus berharap mendulang perolehan suara.

Begitu juga dengan kalangan elit partai politik (parpol). Untuk rekom Dewan Pimpinan Pusat yang sudah turun sibuk mempersiapkan serangkaian strategi pemenangan. Sedangkan parpol yang rekomendasinya tak kunjung turun masih terus melakukan lobi maupun komunikasi dengan para kandidat bakal calon yang telah mendaftar.

Tidak kalah dengan politisi, para tokoh masyarakat yang didaulat sebagai tim sukses juga sibuk atau terkesan menyibukkan diri untuk mendapat ‘nilai’ dari sang calon penguasa. Lantas bagaimana sebetulnya tanggapan masyarakat kalangan bawah atau yang populer disebut kalangan “Grass Root” di kancah politik.

Masyarakat yang tidak tahu menahu tentang rekomendasi, komunikasi politik, elektabiltas maupun popularitas, bahkan lebih parahnya siapa kandidat bakal calon saja tidak tahu apalagi kenal. Yang mereka tahu setiap kali ‘pesta’ demokrasi, Pilbup, Pilgub, Pileg, maupun Pilpres mereka berharap ‘amplop’.

Budaya politik ‘amplop’ atau money politik di Bumi Anjuk Ladang ternyata sudah begitu mengakar di masyarakat kalangan bawah, rasa ewoh pakewuh, sungkan, tidak enak hati, bahkan malu masih dipegang teguh kalangan bawah setelah menerima sejumlah uang dari timses salah satu kandidat.

Mereka seolah tidak peduli, visi dan misi para kandidat. Mindset atau pola pikir kalangan grass root, siapa saja yang memberi uang itu yang akan dipilih. Mereka seolah tidak peduli latar belakangnya apa, diusung oleh parpol apa tidak mereka pedulikan.

“Sakniki ngeten mas, kulo niki tiyang alit, nek wes diparingi duwet mosok arep nyoblos liyane, nek mboten disukani kulo teng sawah mawon oleh duwit, la gawe maem bendinane yo duwit niku (Sekarang begini mas, saya itu orang kecil, kalau sudah dikasih uang masak mau nyoblos yang lain. Kalau tidak dikasih (uang,Red) mendingan kerja di sawah, untuk makan sehari-harikan kerja di sawah cari uang),” ungkap Mbah Jo (Wakijo) masyarakat bawah wilayah Nganjuk Barat saat berbincang dengan akurasinews.com Senin (20/11/2017) di sebuah warung kopi.

“Sing dadi sinten mawon, awak dewe ngih tetep sobo sawah mas. Kulo malah mboten ngertos, sinten to calone, terose ndek ingenane enten sing pengajian, la kulo mboten tumot pengajian, tumut pengajian calon ngoten niku diparingi arto mboten mas (Yang jadi siapa saja, kami ya tetap kerja disawah mas, saya malah tidak tahu, siapa to calone (Cabup,red) katanya kemarin lusa ada yang pengajian. Saya tidak ikut pengajian, ikut pengajian calon itu dikasih uang tidak mas)” timpal Mbah Di (Saidi) seraya tersenyum.

Masyarakat kalangan bawah seolah tidak peduli siapa yang nantinya bakal menjadi pemimpin Nganjuk. Mereka juga tidak memiliki angan-angan atau harapan apapun kepada para calon pemimpin. Yang mereka harapkan, ketika disuruh datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) mendapat uang ‘ganti’ karena tidak bisa bekerja di sawah.

Pendapat kalangan bawah memang berbeda dan bahkan timpang jika dibandigkan kalangan menengah ke atas. Dimana kalangan menengah keatas memiliki kaca pandang dan pola fikir berbeda. Namun apakah dengan demikian calon dengan modal paling besar mampu memenangkan Pilkada mendatang.

Tidak menutup kemungkinan juga, bagaimana strategi para timses dan konsultan politik para kandidat turut ambil bagian pada peperangan perebutan tahta lima tahunan tersebut. Jika timses hanya bekerja ABS (Asal Bapak Senang) tanpa menyampaikan realita dan fakta di lapangan disitulah letak kekalahan kandidat pada pilkada.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed