oleh

Seorang Wanita Tua Memohon & Menangis di Gedung DPRD Nganjuk

Nganjuk- “Pak… Pak.. Ngapunten.. Kulo Ngemis Damel Tumbas Obat, (Pak..,Pak.. mohon maaf, saya meminta minta untuk beli obat),” begitulah suara keras dari depan lobi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nganjuk terdengar. Selasa (5/12/2017)

Dengan linangan air mata, wanita tua itu menangis, memohon dengan melipat kedua tangannya meminta bantuan. Teriakan wanita dengan pakaian kumal itupun mengangetkan sejumlah wartawan media cetak, televisi dan online yang tengah bercengkrama dengan sejumlah staf secretariat DPRD dan anggota dewan di lobi gedung wakil rakyat.

“Kulo bingung Pak.., mboten gadah arto damel mantuk pak, (Saya bingung Pak.., tidak punya uang untuk ogkos pulang),” begitu kalimat diucapkan wanita renta tersebut diulang-ulang. teriakan itupun memantik reaksi para wartawan dan anggota DPRD.

“Enten nopo bu, jenengan sangking pundi,” (Ada apa bu, anda itu darimana),” tanya Endi Wahyu salah seorang staf Sekretariat DPRD Nganjuk. “Kulo ngemis pak, mboten gadah arto damel mantuk” (Saya minta-minta pak, tidak punya uang untuk pulang,” jawab wanita itu dengan linangan air mata sembari menunjukkan segebok obat dan KTP elektronik miliknya.

Sejumlah wartawan dan anggota DPRD pun menghampiri wanita yang memiliki identitas Tanti Sugiyarwati warga RT : 4, RW : 10, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Kepada para wartawan ibu tua tersebut bercerita jika menderita sakit diabetes, dia memiliki seorang anak. Namun karena sudah menikah dia hidup sendirian.

Kesulitan ekonomi yang dialaminya memaksanya meminta-meminta untuk berobat, “Kulo niki sakit gulo, yugo kulo setunggal. Sampun nikah, tapi mantu kulo mboten jowo kaleh wong tuwo pak. (Saya sakit diabetes. Anak saya satu, sudah menikah. Tetapi menantu saya tidak pengertian dengan kondisi saya pak),” katanya.

Sungguh tragis memang kehidupan yang dialami oleh Sugiyarwati, di usia rentanya dia harus keliling menjadi seorang pengemis hanya untuk mendapat sejumlah rupiah untuk makan dan membeli obat. “Jenengan mboten angsal mblithuk lo, ngemis niku mboten sae bu, niki kulo paring arto damel nitih bis, mangke nek sampung teng griyo matur Pak RT kersane diterne dateng dinas sosial Surakarta mriko. (Anda tidak boleh bohong, meminta minta itu baik, ini saya beri uang untuk naik bis. Nanti kalau sudah dirumah bilang sama Pak RT agar diantar ke dinas sosial Surakarta,” kata Agung Sakti anggota DPRD Nganjuk.

Para wartawan media cetak, online dan televisipun ikut patungan memberikan sejumlah uang. Selain untuk ongkos pulang dan makan, uang juga akan digunakan untuk membeli obat “Terenyuh juga melihatnya, kasihan sudah tua tidak ada yang membantu, semoga saja wanita itu tidak bohong. Betul-betul orang miskin, bukan meminta-minta itu jadi pekerjaannya,” kata Andik Sukaca wartawan Koran Memo yang ikut patungan.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed