oleh

Awas..!!! Difteri ‘Serang’ Kota Santri

Jombang – Awas..!! musim penghujan penyakit difteri mulai menyerang masyarakat kota santri. Untuk mengantisipasi ‘serangan’ bakteri penyebab penyakit ini Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Jombang, menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dan menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, pemberian imunisasi secara massal juga telah dilakukan di sekolah-sekolah untuk memberikan imun atau kekebalan pada peserta didik. Seperti diketahui, difteri adalah salah satu peenykit berbahaya selain Demam Berdarah (DBD).

“Penyakit itu (difteri,Red) di Kabupaten Jombang pernah terjadi pada Agustus lalu, kasus yang dilaporkan dari wilayah Puskesmas Cukir Kecamatan Diwek,” ungkap Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Jombang, Wahyu Srihartini kepada awak media, Jumat (15/12/2017).

Difteri, kata Wahyu, umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Dinas Kesehatan mencatat, pernah terjadi 4 kasus serangan difteri di Puskesmas Cukir dan ada juga suspect penyakit difteri di luar cukir. “Setelah pengambilan specimen (sampel cairan tubuh) kemudian di bawah ke BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan) Surabaya, yang suspect tersebut dinyatakan negatif.” Ujarnya.

Ditanya apakah serangan difteri sudah merengut korban jiwa, Kabid P2P Dinkes Pemkab Jombang, Wahyu Srihartini mengatakan bahwa jika pasien kasus difteri yang pernah ada meninggal, namun bukan karena difteri langsung tetapi lantaran penyakit penyerta.

“Ada pasien dengan keluhan yang mengarah ke difteri, kemudian dilakukan pemeriksaan namun ternyata hasilnya pasien tersebut meninggal karena penyakit penyertanya. Penyakit difteri bisa ditanggulangi dengan jalan imunisasi. Namun terkadang orang tua agak kurang fokus pada imunisasi anak yang usianya sudah diatas satu tahun,” tegas Wahyu.

Sementara itu, dr Ulfa Kannatul Izzah, Kepala Seksi Pelayanan Medis (Yanmed) RSUD Jombang mengungkapkan. Selain difteri, untuk kasus DBD mengalami penurunan, pada 2016 cuaca cenderung ektrim tercatat 1.143 kasus DBD dan pada januari hingga november 2017 ini turun menjadi 305 kasus. “Mungkin juga karena pemahaman masyarakat tentang pentingnya lingkungan bersih meningkat,” katanya

Terkait pasien DBD, lanjut Ulfa, sejak januari hingga pada Desember di Minggu pertama 2017 tercatat ada sekitar 250 pasien dengan jumlah penderita per bulan rata-rata 20 pasien, seperti tercatat pada kamis (07/12/2017) ada satu pasien yang menjalani perawatan di Paviliun Seruni. “Beberapa waktu lalu ada satu pasien diduga difteri. Namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium Surabaya ternyata negatif,” pungkasnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed