oleh

Jaranan, Kesenian Dakwah Yang Terlupakan

Nganjuk- Jaranan adalah kesenian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan dibentuk menyerupai kuda. Kesenian ini berkembang sangat luas, tidak hanya di pulau Jawa tetapi juga di Sumatera dan beberapa daerah lain di Indonesia bahkan di mancanegara.

Dahulu kala, kesenian ini dijadikan sebagai media dakwah oleh para wali di pulau Jawa. Seiring dengan perkembangan waktu, kesenian jaranan terpolarisasi dengan sejumlah paham keagamaan dan politik yang menjadikan kesenian ini teraleniasi bahkan terstigma sebagai kesenian yang diharamkan.

Dalam perspektif keagamaan, kesenian jaranan dipersoalkan karena penampilannya yang menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, sesaji dan kekuatan magis.Sedangkan dalam perspektif politik, kesenian ini pernah dijadikan sebagai alat propaganda Lekra (sayap kesenian PKI) untuk menghantam penganut umat beragama, terutama umat Islam.

Polarisasiatas keberadaan kesenian jaranan akhirnya menjadi polemik tak berkesudahan di tengah-tengah masyarakat (bahkan) terlupakan sampai sekarang.

Dari sini muncul dikotomi yang melahirkan stigma paradoks cukup kuat antara kesenian Islam dan bukan Islam. Hampir seluruh kesenian yang lahir dari hasil kreasi masyarakat di masa lalu disebutnya sebagai kesenian bukan Islam dan tidak berhubungan dengan kegiatan dakwah, seperti kesenian jaranan dan sejenisnya, ludruk, ketoprak dan lain-lain. Anggapan ini harus diluruskan karena telah terjadi distorsi sejarah terhadap kesenian jaranan dikaitkan dengan dakwah.

Historis Kesenian Jaranan

Ada beberapa pendapat yang menyebutkan tentang asal usul dan tahun kemunculan kesenian jaranan.

Pertama, kesenian jaranan mulai muncul sejak abad ke 10 hijriyah, tepatnya pada tahun 1041 atau bersamaan dengan Kerajaan Kahuripan dibagi menjadi dua, yaitu bagian timur Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan dan sebelah barat Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan ibukota Dhahapura. Kisah kemunculan kesenian jaranan ini dapat dibaca dalam cerita Dewi Songgo Langit.

Kedua, kesenian jaranan sudah tumbuh dan berkembang sekitar abad 14-15 Masehi. Sejarahnya dapat dirunut dari catatan Agus Sunyoto (2012) yang menyebutkan bahwa kesenian ini lahir pada masa peralihan zaman Hindu ke Islam. Pada saat itu, kesenian ini oleh para wali dijadikan sebagai media penyebaran agama Islam di tanah Jawa, dan wali yang pertama kali mengajarkan dan menggelar kesenian jaranan adalah Sunan Ngudung.
Dikisahkan pula bahwa kesenian jaranan merupakan penggambaran dari kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Substansi nilai yang disuguhkan dalam kesenian ini selain mengandung nilai-nilai estetika/keindahan, juga nilai-nilai kebaikan (al-ma’ruf) dan kebathilan (al-mungkar), yakni sebuah nilai yang melekat dalam keseluruhan dimensi kemanusiaan sebagai insan beragama. Kesenian ini juga mengandung nilai yang memotivasi manusia agar memiliki etos kerja yang tinggi dalam menghadapi persaingan hidup yang keras.

Kesenian jaranan ini kemudian bermetamorfosis menjadi beragam kesenian lain, seperti Reog yang dikembangkan oleh Raja Islam pertama Ponorogo, Bathoro Katong, dan kesenian Jaran Kepang di Kediri dalam cerita Songgo Langit, Jathilan dan sebagainya.

Dalam catatan yang lain disebutkan bahwa pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, kesenian jaranan dikisahkan sebagai tarian perang pasukan Mataram dalam menghadapi pasukan Belanda. Kesenian jaranan konon juga dikembangkan oleh sisa-sisa prajurit Pangeran Diponegoro untuk menyatukan rakyat pribumi melawan penindasan penjajah.

Kesenian Jaranan dan Dakwah

Kesenian dan dakwah ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi, keduanya tidak bisa dipisahkan dan memiliki kesamaan misi, yaitu sebagai alat penyampai ide atau gagasan kepada seseorang atau kelompok, di samping itu juga memiliki unsur hiburan. Agama adalah suatu mata air bagi kesenian, dan sebaliknya kesenian digunakan untuk ketinggian syiarnya agama. Islam tidak mengajarkan paham “seni untuk seni”, tapi seni untuk akhlakul karimah.

Pada zaman peralihan dari Hindu ke Islam pada abad 14-15 Masehi, masyarakat Jawa telah memiliki kesenian dan kebudayaan yang mengakar. Sejumlah kesenian dan kebudayaan itu kemudian dimodifikasi untuk kepentingan syiar Islam dengan tanpa merubah substansi nilai di dalamnya, seperti kesenian Wayang Kulit. Tetapi ada pula kesenian yang diciptakan dari hasil kreasi umat Islam sendiri, terutama seni sastra yang ditembangkan. Di antara tembang-tembang ciptaan para Wali yaitu – Tembang Lir Ilir ciptaan Sunan Kalijogo, Tembang Asmarandana dan Pucung ciptaan Sunan Giri, Tembang Durma digubah oleh Sunan Bonang, Tembang Maskumambang dan Mijil ditulis oleh Sunan Kudus, Tembang Sinom dan Kinanti disusun oleh Sunan Muria, dan Tembang Pangkur oleh Sunan Drajad.

Karya seni ciptaan para wali tersebut pernah menduduki tempat terhormat di hati masyarakat – didendangkan mulai dari rakyat jelata hingga kalangan bangsawan kerajaan; tembang-tembang itu mengalun merdu dari pintu ke pintu di dusun dan di lembah; didendangkan anak-anak muda saat menjalin cinta; ketika orang tua memberikan nasehat kepada yang muda-muda; disaat ibu-ibu menidurkan bayinya; dan kala kiai mengajarkan agama kepada santri-santrinya.
Lalu, bagaimana dengan kesenian jaranan? Terlepas ada silang pendapat mengenai asal usul dan tahun kemunculan kesenian jaranan, yang pasti kesenian ini pernah dijadikan Sunan Ngudung untuk kepentingan dakwah Islam. Sunan Kalijogo pun pernah menggunakan kesenian jaranan sebagai sarana dakwah pada masa pemerintahan Raden Patah. Bathoro Katong, raja Islam Ponorogo juga menggunakan kesenian jaranan yang telah dimodifikasi menjadi reog untuk kepentingan syiar Islam.

Mengaitkan kesenian jaranan dengan dakwah dapat ditarik benang merahnya dalam sejumlah atraksi yang ditampilkan yang dikomunikasikan melalui beragam perlambang atau simbol-simbol yang berhubungan dengan watak dasar manusia dengan dimensi spiritualitas. Perlambang atau simbol-simbol itu kemudian divisualisasikan secara estetis antara kemungkaran, kebenaran, keindahan, dan ketuhanan – sebuah dimensi yang tidak bisa dilepaskan dari hakekat kemanusiaan.
Unsur dakwah dalam kesenian jaranan tergambar dalam keseluruhan yang ditampilkan, mulai dari unsur tari sembahan, instrumen, tembang/syair, busana, dan tokoh. Unsur tari dalam kesenian jaranan merupakan simbol transenden antara manusia dengan Tuhannya (hablum minallah). Sementara unsur instrumen menggambarkan makna moralitas yang ditransmisikan melalui bunyi alat musik yang mengajak kontemplasi para pendengarnya agar selamat di dunia hingga akhiratnya. Sedangkan unsur tembang atau syair menggambarkan pesan keagamaan agar dijadikan pedoman dalam kehidupan umat manusia. Lalu, unsur busana mengandung anjuran agar menutup aurat yang disebut dengan istilah iket. Kemudian unsur tokoh digambarkan dengan simbol kuda yang ditunggangi manusia agar berjalan lurus sesuai nilai-nilai agama di tengah segala macam godaan untuk berbuat kemungkaran. Simbol kemungkaran dalam kesenian jaranan digambarkan dengan barongan dan celeng atau babi hutan.

Berikutnya tentang peristiwa kesurupan mengingatkan manusia bahwa di dunia ini ada dua macam kehidupan, yakni kehidupan alam nyata dan alam ghaib. Adapun beragam sesajen seperti kemenyan, dupa dan bunga tidak lebih sebagai wangi-wangian yang khas dalam tradisi kesenian jaranan

Wallahu a’lam bis-shawab.

Oleh : Ainul Yakin

Penulis adalah Ketua Jaringan Tarekat Muda Indonesia (Jatmina) Jawa Timur, yang kini mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Nganjuk 2018-2023 berpasangan dengan Desy Natalia Widya sebagai Calon Bupatinya.

Komentar

News Feed