oleh

Gali Cerita Masyarakat, Hingga Kerahkan ‘Pasukan’ Drone

Nganjuk- Tegas,sangar,ngeri, dan bersenjata, begitu kira-kira ketika masyarakat awam mendengar kata tentara, eitss.. mungkin hal itu gambaran pada zaman dahulu, era orde lama (orla) atau orde baru (orba). Namun di zaman now seperti sekarang ini, pandangan itu sudah lama terkikis, bersamaan dengan munculnya orde reformasi yang dimulai sejak tahun 1998 lalu.

Jika dulu masyarakat seolah takut dengan yang namanya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun saat ini sudah berbalik 180 derajat, kesan ngeri dan sangar pasukan penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu telah lama terkikis. Pasukan yang identik dengan seragam doreng itupun saat ini memiliki banyak program yang manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

BAHU MEMBAHU : TNI Bersama masyarakat bahu membahu membangun sarana infrastruktur berupa jalan penghubung Desa Lengkonglor Ngluyu menuju Desa Losari Kecamatan Gondang (Agus Bima)

Diantara seabrek program itu adalah kegiatan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD). Dibawah Komando Letkol Arh Sri Rusyono S, SE, Komando Distrik Militer 0810 Nganjuk. Rabu (04/04/2018) korp pasukan baju doreng bersatu padu membangun infrastruktur jalan di wilayah Bumi Anjuk Ladang.

Beragam kegiatan dilakukan sejak satu bulan terakhir, mulai melakukan koordinasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, hingga mendengar langsung cerita masyarakat demi kelancaran kegiatan yang diagendakan empat tahunan di wilayah Kabupaten Nganjuk tersebut.

KEBERSAMAAN : Bersama dengan masyarakat, Kodim 0810 Nganjuk membangun jalan desa Wilayah Kecamatan Ngluyu (Agus-Bima)

Selain itu, Kodim 0810 Nganjuk juga menerjunkan ‘pasukan’ drone. Eits.. jangan salah, pasukan drone dimaksud bukanlah batalyon pengintai dari udara untuk mengintai musuh ketika hendak melancarkan serangan. Namun adalah kamera untuk memantau lokasi dimana para abdi negara tersebut akan melakukan bhakti sosial membangun sarana infrastruktur masyarakat di Wilayah Kecamatan Gondang dan Wilayah Kecamatan Ngluyu.

Pantauan awak media di jalan penghubung antara Desa Losari Kecamatan Gondang menuju Desa Lengkong Lor Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk. Ratusan personel TNI turun ke lapangan melakukan pembangunan jalan. Meskipun peralatan yang digunakan tidak secanggih layaknya kontraktor proyek, namun mereka terlihat tulus melakukan pembangunan fisik dengan semaksimal mungkin.

Tak ayal langkah positif inipun mendapat apresiasi dari warga setempat. Ibarat “gayung bersambut”, warga berbondong-bondong membantu proses pembangunan infrastruktur jalan. Seolah-olah tidak ada lagi status sosial maupun embel-embel status apapun yang menjadi pembeda di antara mereka. Pria-wanita, tua-muda, turun ke jalan demi lancarnya kegiatan pembangunan.

CERITA : Mokhamad Kuswanto, tokoh masyarakat Desa Lengkong Lor menceritakan bagaimana kondisi jalan di desanya yang tak kunjung diperbaiki (Agus Bima)

Mokhamad Kuswanto, salah satu warga Desa Lengkong Lor, mengaku sangat bersyukur dengan adanya pembangunan jalan di desanya oleh personel TNI. Bahkan, dia bersama warga sekitar mengaku siap memberikan bantuan sewaktu-waktu jika dibutuhkan.”Jalan ini yang bangun bapak TNI ‘nyengkuyung’ bersama warga. Kami sangat berterima kasih dan siap memberikan bantuan sewaktu-waktu secara ikhlas,” katanya kepada akurasinews.com Selasa (03/04/2018).

Kuswanto mengisahkan jika sebelumnya di kampung ini beredar cerita sejarah dari para sesepuh kalau suatu saat akan ada pembangunan jalan di daerah tersebut. Bahkan, warga meyakini cerita itu suatu saat akan menjadi kenyataan.”Di sini beredar cerita sesepuh secara turun-temurun sekitar delapan generasi. Masyarakat percaya jika suatu saat ada ‘selendang kuning’ di sini, dan ternyata terbukti (selendang kuning) yang dimaksud adalah alat berat untuk pembangunan jalan,” katanya.

TARGET : Jalan penghubung dua wilayah Kecamatan yang menjadi target sasaran TMMD tahun 2018 di Kabupaten Nganjuk (Istimewa)

Kuswanto menyebut sebelumnya akses jalan ke Gondang berjarak sekitar 10 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam setengah. Dengan adanya infrastruktur jalan yang baru ini, dia meyakini jarak tempuh akan lebih cepat hingga kurang dari satu jam.”Setelah ini mungkin (menuju Gondang) kurang dari satu jam, karena jalannya sudah bagus. Ini tentu sangat membantu sekali bagi kami lantaran membuat aktivitas warga menjadi lancar,” tukasnya.

Menurut keterangan warga, sebelum jalan dibuka seperti ini butuh tenaga ekstra ketika warga menggunakan roda transportasi. Terlebih saat musim hujan tiba, petani yang mengangkut hasil panen akan mengalami kesulitan mengangkut hasil panennya.

Padahal jalur ini merupakan penghubung beberapa desa, namun banyak sekali kendaraan yang belum bisa melintas secara lancar. Hanya roda dua yang sudah dimodifikasi saja yang dapat melintas, sehingga pengendara harus berputar arah meskipun jarak tempuh menjadi lebih jauh.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed