oleh

Perjuangan Bocah Kelas II SD Merawat Nenek Seorang Diri

Jombang – Sungguh ini tamparan bagi semua orang yang mungkin kurang peduli dengan kedua orang tua atau neneknya. Helmi Prayoga begitu nama bocah kelas II Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ngudirejo, Mayangan Jogoroto, Jombang tersebut. Nasibnya, mungkin tak seberuntung anak-anak lain seusianya.

Ketika anak seusianya asik bermain dan meminta uang jajan, dia harus memerah keringat untuk merawat Samunti (80) neneknya yang sakit keras, tidak mampu untuk berjalan, bahkan untuk makan, minum, mandi maupun buang air besar dilakukan di kursi panjang.

Bocah kurang beruntung yang tinggal dirumah kecil di Dusun Murong Timur, Desa Mayangan, Kecamatan,Jogoroto, Jombang tersebut sejak kecil sudah ditinggal ayahnya menghadap yang maha kuasa (meninggal dunia), sedangkan ibunya sejak 7 tahun lalu pergi dan tak kunjung kembali.

Jika anak seusianya dipagi hari masih malas-malasan untuk bangun, manja kepada kedua orang tuanya, sarapan kemudian berangkat sekolah dengan membawa uang saku, tidak demikian dengan Yoga. Begitu bangun tidur dia harus menimba air di sumur untuk menyeka neneknya.

Selesai merawat neneknya, barulah dia berangkat sekolah, beruntung tetangga sekitar banyak yang peduli dengan kondisi bocah malang itu, secara bergantian warga yang tersentuh hatinya memberikan uang saku kepada Yoga seikhlasnya.

Dengan penuh semangat, bocah yang semustinya masih sering menangis, manja di pangkuan ayah dan ibunya itu berjuang menuntut ilmu. Begitu pula ketika pulang sekolah, belum sampai melepas baju seragam Yoga langsung ke kamar mandi untuk menimba air dari sumur karena di rumah neneknya itu memang tidak ada pompa air.

Dengan sabar dan telaten, dia menyuapi neneknya, memberikan obat. Makan dan minum keduanya berasal dari tetangga kanan kiri yang peduli, “Sejak kecil tinggal sama nenek,” katanya singkat. Senin  (09/04/2018).

Sungguh ironis memang, di Kabupaten yang sebentar lagi menggelar pesta demokrasi untuk memilih seorang calon pemimpin, ada warga sangat miskin tak tersentuh kebijakan. Adakah nurani di hati para pemegang kebijakan.

Tatapan mata Yoga seolah mengatakan, air matanya sudah habis sehingga sudah tak lagi keluar, dia hanya ingin jeritan hatinya di dengar Alloh SWT seru sekalian alam agar menyentuh hati para pemangku kebijakan, sehingga neneknya dapat diselamatkan dan dia dapat sekolah sampai tercapai cita-citanya. “Ingin jadi guru, tapi untuk saat ini sangat ingin nenek sembuh,” katanya polos dengan mata berkaca-kaca.

Sulifah (47) salah satu tetangga mengatakan, Nenek Samunti sakit sudah sekitar tiga tahun, sakit terparah terjadi empat hari ini. Dia  dan para tetangga merasa sangat prihatin. “Ya saya membantu semampu saya mas. Kadang ngasih makan, njenguk kalau malam, kadang juga ngasih uang saku sekolah Yoga,” katanya

Menurut Sulifah, Yoga adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Dan kedua saudaranmya sejak masih kecil dibawa kerabatnya. Selain dari tetangga, kehidupan Yoga dan Sang Nenek saat ini bergantung pada pihak yang kadang memberikan bantuan.

“Sangat prihatin mas kondisinya. Sejak kecil Yoga tinggal sama neneknya, bapaknya sudah meninggal, ibunya tidak tahu kemana. Pamitnya kerja, tapi sampai sekarang nggak ada kabar,” ungkap Sulifah.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed