oleh

Tentang Puisi Sukmawati, Ketua MUI Jombang : Kepala Boleh Panas, Hati Harus Tetap Dingin

Jombang – Menyikapi menghangatnya polemik puisi karya Sukmawati Soekarnoputri yang dibacakan saat pembukaan perayaan 29 tahun kreasi perancang Anne Avantie yang di gelar di sela pergelaran ‘Indonesia Fashion Week’ di Jakarta Convention Center, Kamis (29/03) yang lalu sempat berujung kontroversi.

Meski menimbulkan kontroversi di kalangan umat muslim, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, KH Kholil Dahlan menghimbau semua pihak agar menyikapi kontroversi puisi tersebut dengan kepala dingin.

“Bagi kita yang membaca atau mendengar, agak hati-hati, kepala boleh panas, tapi hati tetap dingin. Sehingga kita bisa mengambil sikap, yang sikap itu betul-betul manjur menyelesaikan masalah,” tutur Kyai Kholil saat ditemui awak media di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabuapaten Jombang, Selasa (10/04/2018).

Seperti diberitakan, puisi Sukmawati menjadi kontroversi di berbagai kalangan masyarakat. Puisi itu dinilai menistakan agama karena ada perbandingan, seperti syari’at islam dengan kidung. Bahkan Sukmawati dikabarkan dilaporkan sejumlah pihak ke polisi.

Ketua MUI Jombang menambahkan, jika menyikapi puisi Sukmawati dengan hati dan kepala yang panas, nantinya tidak akan menyelesaikan masalah, dan justru malah menimbulkan masalah baru. Menurut Kyai Kholil, hal ini merupakan dua hal yang berbeda dan tidak dapat dibandingkan, karena memang tidak bisa dibandingkan.

“Budaya adalah produk manusia, sedangkan syari’at islam itu produk keyakinan, dan produk dari Yang Maha Suci. Makanya, tergantung siapa yang melihatnya, dari mana dilihatnya, dari sisi apa dampak yang ditimbulkannya. Tapi secara umum, puisi itu menimbulkan rasa tidak nyaman bagi umat yang meyakini kebenaran islam,” tambahnya.

Saat ditanya mengenai apakah puisi tersebut mengundang unsur SARA, Kyai Kholik menjelaskan bahwa, untuk soal mengandung SARA atau tidak, itu tergantung dari sudut mana seseorang menyikapinya. “Puisi itu, kalau dilihat dari sisi SARA bisa, ada unsur SARA nya, kalau di lihat dari sisi tidak SARA juga bisa, karena itu hasil imajinasi atau dengan kata lain produk sastra,” terangnya.

Kyai Kholil juga menuturkan bahwa, dalam membuat produk budaya, seharusnya berhati-hati, karena kondisi masyarakat tidak hidup dalam dunia budaya saja, namun juga hidup dalam dunia keyakinan. “Ketika dilingkungan budayawan, eksklusif yang hanya orang-orang sastra, hal ini tidak menjadi masalah. Namun jika dibawa ke publik, ini bisa menjadi masalah,” pungkasnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed