oleh

20 Tahun Setelah Reformasi, Cerita Mbak Tutut Viral di FB

Nganjuk- Reformasi Mei 1998 menjadi momen penting seluruh bangsa Indonesia, moment dimana kekuasaan Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun runtuh, beragam cerita dari berbagai daerah menjadi artikel, berita, maupun cerita dari mulut ke mulut.

Momen penting dimana banyak orang mengklaim terlibat dalam aksi pelengseran orang nomor satu di Indonesia. Ada yang mengaku bangga, ada yang mengaku kecewa ada yang datar-datar saja jika diajak berbincang tentang peristiwa bersejarah itu.

Yang mengaku bangga karena merasa terlibat langsung bersama rakyat dan mahasiswa membuat perubahan, dari orde baru menjadi orde reformasi, kecewa karena merasa orde reformasi bukan membawa ke arah lebih baik namun justru kemrosotan segala bidang sampai-sampai bermunculan tagline “Piye Kabare Jik Penak Jamanku To”. Datar-datar saja karena meski era telah berubah kondisinya stagnan “Presiden Mulai Soeharto Sampek Saiki Kondisine Panggah”

Jika masyarakat merasakan beragam kondisi, apalagi pihak keluarga Presiden kedua RI kala itu, akurasinews.com menemukan tulisan Siti Hardijanti Rukmana Putri Presiden yang dikenal sebagai bapak pembangunan itu mengunggah tulisan di laman Facebooknya pada 31 Mei 2018 pukul 02.00 WIB.

Tulisan yang menceritakan keadaan yang dialami Mbak Tutut kala itu, hingga Senin (04/06/2018) pukul 14.00 WIB sudah di like oleh 29 ribu akun dan dibagikan sebanyak 17.962 kali. Beragam ciutan  warganet setidaknya menggambarkan betapa bangsa ini tetap menghargai perjuangan seorang Soeharto yang telah memimpin Negeri ini selama 32 tahun

“Amiin.. Sungguh ketulusan beliau dlm memimpin bangsa ini akan kami kenang sampaikan akhir masa” tu lis akun Muslim Hanura berkomentar.  “Sosok yg sll q rindukan sebgi seorang pemimpin…. Mereka yg gk suka dgn beliau mau koar” apapun terserah…”itu kan kt Lo”… Yg penting jmn dipimpin bliau dulu… Murah sandang pangan ra onok kisruh, negara tetangga gk ad yg berani mcm” dgn Indonesia tercinta…… Smg beliau masuk syurga Aamiinn….” komen akun Istina Kenzie

“Lov u eyang kakung” timpal akun Endang Setyorini. “Assalamuallaikum Bunda Mudah2an ada yg bisa menggantikan memimpin Bangsa ini seperti Eang H.Muhammad Suharto. Alm sangat kami banggakan,” tulis akun Muhammad Hafiz ikut berkomentar. “Seiring dgn berjalannya waktu.MUTIARA itu akan tetap mutiara.yg benar itu akan tetap benar walau di tutupi dgn fitnah.semoga bpk dan ibu sudah tenang d sisinya.karena kebaikan itu akan terasa ada bila dia sdh tiada.lanjutkan cita2nya utk bangsa ini” cuitan akun Kot Spentri.

Dan masih banyak lagi akun berkomentar positif lain mengomentari akun FB dengan nama Tutut Soeharto tersebut. Berikut tulisan Mbak Tutut yang di unggah di laman FBnya.

Kamu Harus Kuat

(Oleh: Siti Hardijanti Rukmana)

Pagi itu saya berpakaian rapi dan resmi, karena pagi itu bapak akan menyampaikan pidato berhentinya dari Presiden di istana Merdeka. Di Cendana saya menemui bapak yang sudah duduk di ruang keluarga.

Bapak melihat saya berpakaian rapi bertanya pada saya: “arep nang endi kowe (mau kemana kamu).”

“Mau nderek (ikut) bapak ke istana,” saya menjawab lirih.

Bapak agak kaget, lalu beliau mengatakan: ”Kamu di rumah saja, ini acara resmi kenegaraan.”

“Tapi saya mau ikut bapak,” saya bersikeras memohon.

“Lihat di TV saja nanti, kan sama saja, lagi pula ini bukan acara keluarga,” bapak pun bersikeras.

Saya tetap pada pendirian saya: “Kali ini saya mau ikut bapak, saya mau menemani bapak.”

“Kamu nanti nggak kuat mendengarnya,” bapak menjelaskan.

“In sya Allah saya kuat pak, saya ikut ya pak,” saya memohon.

Akhirnya bapak mengizinkan saya ikut ke istana. Sampai di istana bapak menuju ruang keluarga sambil menunggu waktu upacara dilaksanakan. Tidak lama kemudian, Ajudan dan Protokol istana masuk ruangan memberi tahu bahwa acara segera dimulai. Bapak berdiri lalu berjalan menuju ruang upacara. Sayapun berdiri ikut berjalan di belakang bapak.

Melihat saya ikut, bapak berhenti sambil berkata : “Kamu tunggu di sini saja wuk. Biar bapak sendiri.”

Saya jawab : “Tidak pak, saya ikut, saya mau menemani bapak terus.”

“Bapak kan sudah bilang ini acara kenegaraan, jadi kamu tunggu disini saja.”

“Saya nggak mau bapak sendiri, saya mau menemani bapak.”

“Ini bukan acara keluarga, tidak ada keluarga yang boleh ikut, kowe nunggu ning kene wae (kamu nunggu di sini saja). Dan nanti kamu nggak kuat, malah nggak baik jadinya.”

Karena bapak selalu berbicara bahwa ini bukan acara keluarga, akhirnya saya menyampaikan satu kenyataan yang mungkin bapak lupa :

“Bapak… saya tahu bahwa ini bukan acara keluarga, tapi saya tetap akan ikut dengan bapak sebagai putri bapak, tapi bapak jangan lupa bahwa hingga saat ini saya masih Menteri bapak, jadi saya akan ikut juga sebagai salah seorang pembantu bapak, izinkan saya mendampingi bapak.”

Mendengar jawaban saya, bapak memandang saya agak lama, lalu berkata : “Ya sudah, tapi kamu harus kuat ya.”

“In sya Allah pak,” saya menjawab dengan menahan berlinangnya air mata agar bapak tidak melihat, karena akhirnya saya bisa menemani bapakku tercinta yang telah mengabdikan sebagian besar usianya untuk masyarakat, bangsa dan Negara, pada momen yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia tercinta ini.

Bapak kami seorang negarawan yang selalu menjunjung tinggi prinsip aturan, undang-undang yang berlaku di Negara Indonesia, tapi juga seorang bapak yang selalu melindungi keluarganya. Beliau sangat mengkhawatirkan perasaan saya menerima kenyataan bahwa bapak akan berhenti dari jabatan Presiden yang dipilih oleh masyarakat melalui wakil-wakilnya di MPR-RI.

Alhamdulillah beliau bapakku…, terima kasih Tuhan.

Bapak, apapun yang bapak putuskan, kami anak-anak bapak, akan selalu mendukungmu setulus hati, sepenuh jiwa. Bapak sampaikan kepada kami, jangan berkecil hati akan apa yang terjadi saat itu, karena Allah tidak pernah tidur, suatu saat masyarakat akan bisa menilai sendiri.

Doa kami selalu menyertai Bapak dan ibu, bahagialah bapak dan ibu berdua di atas sana, di surga-NYA …. Aamiin.
Bapak, Ibu….. we love you.

Jakarta, 31 Mei 2018
Jam 02.00, usai menghadap Illahi menanti saur

Komentar

News Feed