oleh

Lestarikan Budaya Leluhur, Warga Jalakombo Tumpengan di Makam Leluhur

Jombang – Makan di restoran, warung atau di cafe sudah biasa. Tapi ini ada cara paling unik untuk makan bersama-sama dengan keluarga dan seluruh tetangga di Dusun Kwijenan, Kelurahan Jelakombo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Di desa ini, setiap setahun sekali mengadakan acara Tasyakuran Sedekah Dusun di areal makam leluhur. Tradisi tahunan itu sudah dilakukan warga turun temurun dan sudah menjadi budaya warga dusun setempat.

Pantauan Akurasinews dilokasi, acara sedekah dusun terbesut, dihadiri oleh seluruh warga setempat, pada Jum’at (27/07/2018). Tak hanya cuman hadir, ratusan warga juga berbondong-bondong membawa nasi tumpeng dari tiap rumah masing-masing untuk disajiakan serta didoakan dan kemudian disantab bersama para warganya di area pemakaman umum, demi mengenang arwah leluhur warga sekitar dan leluhur dusun setempat. Selain itu juga untuk mendoakan leluhur dusun, yakni Mbah Buyut Nolo Truno, yang makamnya juga berada di lokasi acara tersebut.

“Sedekah dusun kali ini adalah untuk bersyukur pada tuhan dan melesrarikan budaya dengan mendoakan leluhur dusun ini yakni, Buyut nolotruno,” ungkap Ketua Panitia sedekah desa, H Mutohar, saat diwawancarai usai acara sedekah Desa di area Pemakaman Umum di Dusun Kwijenan, Kelurahan Jelakombo, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jum’at (27/07/2018).

Warga juga mendoakan arwah leluhur keluarganya masing-masing di pemakaman umum di dusun tersebut. Kemudian, keunikan acara ini yaitu dari setiap keluarga rumah yang hadir membawa nasi tumpeng dan dinikmati bersama keluarga di depan pusaran makam dari keluarganya masing-masing.

“Tadi setelah shalat jumat kami mengadakan tasyakuran. Di acara ini setiap KK (Kepala Keluarga) membawa satu tumpeng, kurang lebih ada lima ratus tumpeng sudah tersedia yang dibuat oleh seluruh masyarakat dan dinikmati bersama-sama. Setelah tadi siang makan tumpeng serta ada pertunjukan wayang kulit pada siang hari, dan tadi setelah shalat isyak hingga semalam suntuk dilanjutkan lagi pertunjukan wayang kulit, dari dulu mesti seperti ini,” terangnya.

Sementara itu, Sri Ponimah (60) warga setempat mengatakan, sedekah dusun ini merupakan moment tahunan yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Dusun Kwijenan, Kelurahan Jelakombo, Kecamatan/Kabupaten Jombang, dengan adatnya acara ini setiap rumah membawa nasi tumpeng dengan menu yang sama.

“Nasi tumpeng yang disajiakan ini syaratnya pada waktu dimasak tidak boleh dicicipin. Menu isinya di tumpeng itu harus ada nasi putih terus untuk lauknya harus ada ayam, tahu, tempe dan urap-urap. Sedekah desa ini selalu diadakan setiap tahun pada bulan Juni atau Juli, yang pasti harinya Jum’at Pon,” paparnya.

Menurut Sri, acara ini merupakan budaya turun temurun yang sudah ada selama ratusan tahun, jadi warga sekitar yang berada di luar kotapun memilih pulang ke desa untuk menikmati acara sedekah dusun tersebut. “Disini itu khasnya adalah orang-orang yang bekerja di luar kota pada pulang semua saat sedekah dusun ini. Ini anak, cucu dan sepupu juga pulang. Ada yang dari Balikpapan, Gersik dan ini dari kedir,” tegasnya.

Momen yang harus dirayakan setiap tahun ini juga tak hanya para orang tua yang hadir, sejumlah remaja juga terlihat meramaikan. Salah satunya, Shinta Dwi Lestari (20) yang merupakan warga dusun tersebut juga mengatakan bahwa dirinya selalu mengikuti acara tahunan yang ada di dusunnya. Shinta yang berstatus mahasiswi ini juga menanggapi acara sedekah dusun tersebut, adalah merupakan bentuk upaya masyarakan Dusun Kwijenan untuk mempererat tali persaudaraan.

“Saya sebagai warga menilainya bagus ya, karena acara ini juga seperti mempererat tali persaudaraan dan solidaritas dari warga sendiri. Soalnya kan ini adalah acara yang langkah, di desa-desa lain kan sudah tidak ada. Saya fikir ini harus dilestarikan,” terangnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed