oleh

Kota Santri Darurat Narkoba, Polres Tangkap Pengedar Mojokerto

Jombang – Kalangan anak muda di Kabupaten Jombang mulai banyak disusupi pengedar-pengedar narkoba jenis pil dobel L. Peredaran narkotika yang masuk dalam kategori obat keras berbahaya (okerbaya) ini bisa mengancam generasi muda di Kota Santri dan sudah ribuan butir barang haram itu dipasok dari luar kota dengan menggunakan sistem ranjau kepada pembelinya.

Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasat Reskoba) Kepolisian Resort Jombang, Ajun Komisaris Polisi Mukid mengatakan bahwa, tren  peredaran okerbaya jenis dobel L ini dipengaruhi harga yang tergolong murah dan gampang dijangkau para pemakai. Bahkan saat ini peredaran dobel L di Kabupaten Jombang mulai kembali marak, dalam kurun waktu satu minggu, Reserse Narkoba berhasil mengamankan jenis Okerbaya tersebut mencapai lima ribu butir.

“Untuk mendapatkan 1 butir dobel L ini, pembeli cukup mengeluarkan kocek uangnya seharga Rp 5 ribu setiap perbutirnya. Saat ini di Jombang peredarannya sekitar 4 ribu hingga 5 ribu butir dalam satu minggu,” ungkapnya kepada Akurasinews usai melakukan reka ulang penangkapan pelaku narkoba di Mapolres Jombang, Rabu (08/08/2018).

AKP Mukid menambahkan, selain harganya tergolong murah, peluang bisnis barang haram ini juga menjadi daya tarik para pengedar maupun bandar, dengan menjual pil dobel L, hasilnya bisa mendapat jutaan rupiah pun bisa jadi keutungan besar. Kemudian beberapa waktu lalu Satresnarkoba Polres Jombang berhasil mengamankan 2 bandar sekaligus pengedar dobel L di wilayah Kota Santri, dengan mengamankan dua pengedar berasal dari Mojokerto yakni, Eko Rudianto alias Gibas, dan Anggara Ari.

“Untuk satu kantong plastik berisi seribu butir, bisa meraup keuntungan Rp 500 ribu. Satu minggu bisa terjual 10 kantong, jadi kan bisa dapat Rp 5 juta. Dalam tangkapan kami dari Pengedar Mojokerto ini, kita mengamankan barang bukti, sebanyak 31 ribu butir okerbaya, dari Ari 5 ribu butir dan dari Gibas 26 ribu butir narkotika jenis dobel L,” terangnya.

Modus sistem penjualannya, menurut AKP Mukid juga menjelaskan, para pengedar luar kota itu, saat ini menggunakan sistem ranjau. Dari penjual dan pembeli tidak bertemu secara langsung dan hanya melalui komunikasi sambungan telepon.

“Ini bertransaksi melalui seluler, dengan sistemnya ranjau. Barang ini disimpan di suatu tempat, selanjutnya usai transaksi selesai, baru barang diambil. Kemudian, sasaran penjualan mereka umum rata-rata mayoritas anak-anak generasi muda dibawah 30 tahun. Karena itu dengan adanya okerbaya inilah yang merusak genarasi muda dan dari Resnarkoba Polres Jombang akan memberantas pil ini di Kota Santri,” pungkasnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed