oleh

Gas Elpiji 3 Kg Langka, Warkop Kota Santri Gunakan Kayu Bakar

Jombang – Meski sudah dilakukan operasi pasar oleh sejumlah agen usai mendapatkan perintah dari pertamina, akibat kelangkaan gas elpiji 3 kg, di sejumlah desa di Kabupaten Jombang. Namun tak mampu mengatasi kelangkaan kebutuhan pokok masyarakat itu, bahkan sejumlah warung kopi (Warkop) yang di Kota Santri beralih menggunakan kayu bakar, meski harus menanggung biaya lebih besar jika dibandingkan menggunakan elpiji subsidi.

Sejumlah pengecer tetap mengeluhkan kelangkaan itu. Terhitung setelah perayaan hari raya kurban (Idul Adha) jatah gas elpiji yang diterima pengecer dari agen yang semula 20 tabung per minggu kini, turun menjadi 5 tabung.

“Habis hari raya idul adha kemarin sudah langka mas. Biasanya di stok sampai 20, sekarang jatahnya dikurangi, sekarang kadang diberi 5, kadang 6 tabung gas elpiji 3 kg dalam satu minggu sekali,” ungkap Mudmainah (64) salah seorang pengecer gas elpiji 3 kg, yang membuka toko di jalan Kapten Tendean, Desa Pulo Lor, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Selasa (28/08/2018).

Menurutnya, kelangkaan ini yang terparah, karena tabung gas di tokonya kosong. Kondisi ini sudah berlangsung selama 1 minggu. Makannya, otomatis gas elpiji 3 kg sekarang jadi mahal sampai dua puluh ribu.

“Seminggu ini sudah kosong. Ya banyak warga kecewa, kan semua memang gak ada. Di toko-toko lainnya juga gak ada. Biasanya harganya itu sekitar 16.500 terus naik jadi 17ribu dan naik lagi 18 ribu, terus saya jualnya sekarang 20ribu, kalau kemarin tetep 18ribu,” jelasnya.

Saat ditanya tentang alasan pangkalan mengenai kelangkaan elpiji tersebut, pihaknya mengatakan memang saat ini dari pihak agen sengaja melakukan pembatasan pada pangkalan dan pengecer. Mudmainah berharap  kepada pemerintah, fenomena kelangkaan ini cepat teratasi, dan segera menindak lanjuti adanya kelangkaan gas elpiji 3 kg di Jombang ini.

“Katanya memang dibatasi, agennya bilang, ini memang sengaja dibatasi dari perusahaannya mas. Saya berharap supaya bisa lancar lagi, supaya orang-orang bisa jualan,” paparnya.

Bukan hanya pengecer toko yang mengeluh akibat kelangkaan elpiji ini. Sejumlah warung kopi, demi tetap melayani pelanggan beralih menggunakan kayu bakar untuk mengatasi kelangkaan elpiji yang masih terjadi meski operasi pasar gencar dilakukan oleh agen-agen elpiji.

Seperti yang dialami oleh pemilik warung kopi, asal Desa Pulo Lor Kecamatan/Kabupaten Jombang, Faizuddin, ia lebih memilih menggunakan kayu bakar, untuk mengatasi kelangkaan elpiji di sekitar tempat tinggalnya.

Kelangkaan  itu, lanjutnya mempengaruhi pendapatan warungnya, karena harga kayu bakar lebih mahal saat ini, dan tidak mungkin menaikkan harga kopi meskipun memakai kayu bakar.

“Beberapa hari kemarin di toko tempat biasa saya beli elpiji masih habis, jadi mulai 4 hari kemarin saya menggunakan kayu bakar. Padahal, biaya kayu bakar dibandingkan pakai elpiji lebih tinggi, sedangkan kita tidak mungkin menaikkan harga secangkir kopi, karena takutnya pelanggan kita berpindah,” terang pemilik warkop yang akrab disapa Faiz saat ditemui akurasinews.com ditempat usahanya.

Tak hanya pengecer toko saja yang mengharapkan hal yang sama, warkop yang bernama Warung Aspirasi (WA) ini juga meminta kepada pemerintah segera mengatasi kelangkaan gas elpiji di Kabupaten Jombang, karena operasi pasar yang dilakukan oleh agen juga tidak menjadi solusi untuk mengatasi kelangkaan elpiji saat ini.

“Harapan saya sebagai bakul kopi, meminta pemerintah baik pusat maupun daerah sesegera mungkin menyelesaikan masalah kelangkaan elpiji ini, sehingga kami yang melakukan kegiatan usaha kecil-kecilan ini, bisa kembali menggunakan gas elpiji lagi,” pungkasnya.

Repoter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed