oleh

Industri Migas, Diharapkan Berdampak Positif untuk Perekonomian Kota Santri

Jombang – Kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) di Blok Brantas yang kini dikerjakan Lapindo Brantas, Inc, di Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, diharapkan member dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat Kabupaten Jombang.

Menurut Kepala Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Darul Ulum Jombang, Dr Junaidi MSi memaparkan, Kecamatan Kesamben yang masuk dalam kawasan blok utara Jombang, diyakini akan berubah menjadi industri yang masif sesuai dengan rancangan tata ruang wilayah yang dicanangkan pemerintah daerah.

“Rancangan Kabupaten Jombang kan membangun industrinya di kawasan utara. Nah kalau Lapindo jadi produksi disana (Kecamatan Kesamben), efek ekonomi masyarakat akan bisa tumbuh pesat, semisal tumbuhnya beberapa usaha baru yang mendukung,” ungkap Junaidi saat ditemui awak media di kampus Undar, Jalan Gus Dur Kabupaten Jombang baru-baru ini.

Dosen Strata 2 di Pascasarjana Undar Jombang ini juga mengungkapkan dari kacamata ekonomi. Hadirnya kegiatan migas di Blok Brantas akan berdampak pada tumbuhnya sektor ekonomi lain, baik yang mendukung industri migas maupun pelengkap dari industri itu sendiri.

Dia menambahkan bahwa, hasil dari kegiatan migas ini akan bisa membantu Pemerintah Kabupaten dalam hal pendapatan daerah. Dan dimana hasil dari pendapatan tersebut, juga akan kembali untuk kepentingan masyarakat.

“Disitu (lokasi migas) juga akan melibatkan masyarakat di bidang ekonomi. Masyarakat juga akan mungkin membuka usaha baru jugakan. Misalnya, jasa yang mendukung industri itu, penginapan atau makanan misalnya. Nah itu juga peluang bagi masyarakat sana. Kemudian untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jombang juga bisa bertambah tentunya,” jelasnya.

Dalam kegiatan usaha hulu migas ini, Junaidi juga menerangkan, suatu industri harus tetap berjalan di era industrialisasi saat ini, dengan memberi dampak positif di semua aspek. “Kalau orang ekonomi melihatnya kan, tetap harus berjalan (industri). Tetapi dengan persyaratan yang ketat, dan harus bisa memberikan imbal balik ke masyarakat. Imbal balik ekonomi dan imbal balik sosial,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabupaten Jombang, Budi Winarno meyakini, jika ekplorasi berhasil dan berlanjut hingga tahap produksi, bisa dipastikan efek ekonomi ke daerah akan bertambah. Hasil yang masuk ke kas negara dalam hal ini disebut Produk Domistik Bruto (PDB) nasional akan dibagi dan diberikan ke Kabupaten Jombang.

“Sama dengan hasil hutan. Jadi itu nanti dihitung oleh Kementerian Keuangan misal Jombang mendapat sekian. Jadi jika nanti sudah berdiri,  strata sosial masyarakat meningkat, ekonomi naik dan daya beli tinggi. Ya, bisa jadi Kesamben berubah menjadi kota dan masyarakat harus siap,” papar Budi.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jombang, Mas’ud Zuremi yang mengatakan bahwa, dampak ekonomi dari berdirinya industri migas pasti akan dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Jika berkaca pada Kota atau Kabupaten lain, seperti salah satu contohnya kawasan Cepu di Kabupaten Blora, pertambangan sudah menyuplai peningkatan ekonomi yang cukup besar.

“Yang jelas, APBD akan meningkat. Daerah akan mendapatkan bagian persentase dari pusat. Selain itu ekonomi masyarakat di sekitar akan tumbuh dengan perdagangan dan macam-macam,” ujar Mas’ud.

Dengan semakin meningkatnya aktifitas kegiatan di industri migas, secara tidak langsung akan mendatangkan banyak pekerja baik dari lokal maupun dari luar, seperti tenaga ahli. Mas’ud yang juga dari Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jombang ini menambahkan, jika Lapindo berproduksi di situ,  desa tidak akan pernah ditiinggalkan dan pastinya akan mendapatkan CSR dari produksi itu. Bahkan, Mas’ud menyebut jika ada yang masih menolak itu cukup wajar.

“Mereka kan pasti bertempat di situ dan memerlukan tempat tinggal, jadinya akan ada dampak perekonomian baru disitu. Kemudian kalau mungkin masih ada rasa kekhawatiran seperti di Porong. Tapi saya yakin ndak mungkin, karena Lapindo sudah melakukan riset begitu lama, dan tidak mungkin gagal dua kali,” pungkas Mas’ud yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRD Jombang.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed