oleh

Puluhan Warga Berebut Uang Koin di Jalan Semeru

Nganjuk – Berebut uang koin, begitulah penutup rangkian ritual dundunan atau turun tanah yang digelar oleh salah satu warga Jalan Semeru, Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Anak-anak, remaja maupun orang dewasa seolah larut dalam kegembiraan. Tradisi masyarakat jawa yang dilakukan untuk menyambut usia 7 bulan pada seorang bayi yang untuk kali pertama menginjakkan tanah, sayangnya tradisi sakral itu kini sudah mulai ditinggal seiring modernisasi zaman.

Bahagia : Dya Sang Hawwa digendong Wulan Ayu Permatasari ibundanya usai prosesi acara dundunan didampingi Joko Purnomo Suaminya (Bima)

Namun tidak demikian dengan yang dilakukan oleh Suparni dan Inawati. Begitu bahagianya untuk menyambut tujuh bulan cucunya yang diberi nama Dya Sang Hawwa, putri dari anak pertama Suparni yang bernama Wulan Ayu Permatasari dan menantunya Joko Purnomo. Aktifis yang getol mengkritisi kebijakan Pemerintah Daerah itu menggelar tradisi sakral tersebut.

” Intinya untuk nguri nguri budaya yang seakan semakin ditinggalkan ini. Semoga dengan acara ini, cucu saya kelak menjadi anak yang soleha, berguna bagi nusa bangsa dan agama,” kata Suparni saat berbincang dengan akurasinews.com Senin (19/11/2018) disela-sela acara dundunan di halaman rumahnya.

Rebutan : Anak-anak berebut uang koin di akhir acara ritual dundunan yang digelar oleh Suparni warga Jalan Semeru Desa Sukorejo, Loceret, Nganjuk (Bima)

Acara itu dimulai dengan dimandikannya Dya Sang Hawwa oleh seorang dukun, tidak sembarangan dalam memandikan, air yang digunakan untuk memandikan bayi cantik itu dicampur dengan kembang boreh, berbagai jenis bunga dan dedaunan.

Terlihat pada acara ritual itu, sejumlah warga dan anak-anak menjadi tamu, seorang tokoh agama memimpin doa dan diamini oleh seluruh tamu undangan. Setelah doa selesai, dengan dituntun kedua orang tuanya Dya Sang Hawwa menaiki tangga yang dibuat sedemikian rupa seolah menggambarkan titik awalnya menapaki tanah menuju puncak masa depan.

Untuk selanjutnya Dya Sang Hawwa dimasukkan kedalam kurungan yang terbuat  dari bambu atau pring berbentuk setengah bulatan dan memiliki celah dan biasanya dihiasi sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya.

Nenek : Dya Sang Hawwa digendong Inawati neneknya usai acara ritual dundunan. bayi tujuh bulan itu dikepalanya masih memakai hiasan dan terlihat lucu (Bima)

Didalam kurungan oleh keluarga sudah disediakan  tampah yang juga terbuat dari pring  yang  dianyam. Dan berisi buku, bolpoin, mainan, tasbih, kaca hias (nilon-jawa) Al Quran dan  uang, disitulah Dya Sang Hawwa dibiarkan untuk mengambil apa yang sudah ada didepannya, ” Tadi cucu saya mengambil bedak sama pensil, semoga nantinya menjadi anak yang pintar,” ungkap Suparni.

Proses ritual selanjutnya seorang tokoh masyarakat membacakan doa penutup serta menikmati hidangan dari tradisi dundunan ini. Untuk makanan atau kue yang dihidangkan juga khas, “Kita menurut saja, intinya tetap untuk nguri-nguri budaya kita, ada imbel-imbel (iwel-iwel atau koci-koci biasa disebut masyarakat Surabaya), jadah atau tetel, dan itu masih banyak yang lain,” kata Parni seraya mempersilahkan pewarta media ini untuk ikut mencicipi kue khas dundunan.

Macet : Jalan Semeru Desa Sukorejo Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk sempat beberapa saat macet karena banyaknya warga dan anak-anak yang ikut rebutan uang koin didepan rumah Suparni (Bima)

Adapun makna dari dundunan tersebut adalah bahwa bayi sudah diperbolehkan menyentuh tanah dan bermain dengan anak-anak sebayanya. Selepas dari makna dundunan tersebut si bayi yang sudah melalaui tradisi tersebut sudah boleh digendong dengan cara di pengkeh.

Dan diakhir acara, sebagai penutup anak-anak dan tamu undangan yang sudah datang diberi kesempatan untuk berebut uang koin. Namun tidak hanya itu, pihak keluarga kali ini juga menyediakan berbagai hadiah doorprize yang diberikan secara Cuma-Cuma kepada masyarakat dengan lebih dulu memilih nomor yang dimasukkan kedalam sedotan.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed