oleh

Perempuan Masih Sebagai Maksim di pada Keadaan Sosial Budaya Saat ini

Oleh : Taufin Arifiyah

Perkembangan perempuan pada jaman dahulu dan sekarang memang banyak terjadi, contohnya seperti, perempuan jaman dahulu tidak bisa menikmati bangku sekolah, tetapi pada jaman sekarang ini perempuan dapat bersekolah sampai pada gelar tertinggi. Perempuan saat ini juga dapat bekerja seperti jam para laki laki lakukan, dan masih banyak lagi perubahan perubahan yang terjadi.

Dibalik perkembangan yang terjadi, tidak banyak pula yang menganggap perempuan sebagai maksim di, seperti dilihat oleh para kaum laki laki, digoda oleh kaum laki laki jika memakai perlengkapan pakaian atau berdandan yang sedikit terlihat, dinikahi oleh kaum laki laki karena budaya di Indonesia ialah perempuan itu dinikahi bukan menikahi, sampai pada maksim di yang berarti dilecehkan oleh kaum laki laki, setelah dilecehkan kaum perempuan bahkan disalahkan dengan alasan taka da perlawanan.

Seperti pada kasus baru baru ini yang banyak muncul di surat kabar, maupun berita online, yang membahas mengenai kasus Agni (Mahasiswi UGM yang dilecehkan oleh teman KKNnya sendiri), dan Baiq Nuril (guru Honorer SMAN 7 Mataram yang dilecehkan Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram).

Kasus Agni

Agni ialah Mahasiswi UGM, yang pada tahun 2017 silam melaksanakan KKN di Pulau Seram, Maluku. Korban pelecehan dari Mahasiswa UGM yang saat itu pelaku ialah sebagai teman KKN yang berbeda program studi dengannya. Setelah kejadian itu Agni melaporkan Dewan Departemen Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM), namun hasil yang diperoleh Agni, disalahkan pada hal ini karena dinilai tidak ada perlawanan, bahkan mendapat jawaban jangan menyebut dia (agni) korban dulu. Ibarat kucing kalau diberi gereh (ikan asin dalam bahasa Jawa) pasti kan setidak tidaknya akan dicium cium atau dimakan. pejabat DPkM.

Tidak sedikit yang berpendapat kenapa dia (agni) hanya diam, tidak melakukan perlawanan?, menurut ilmu kedokteran kebanyakan korban pelecehan seksual mengalami feezing yaitu suatu kondisi dimana mereka tidak mampu bergerak atau berbicara meskipun sudah mencoba, karena rasa takut, bingung, serta paniknya terlalu besar.

Sampai pada akhirnya Agni (sebagai korban) malah mendapatkan nilai KKN yaitu C karena dianggap bersalah oleh Kepala Subdirektorat KKN, hingga Agni meminta bantuan pada Pusat Pengembangan Sumberdaya untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan untuk menyelesaikan kasus ini, dengan dibantu beberapa Organisasi Mahasiswa UGM untuk membawa kasus ini diranah Hukum, karena sebelumnya pihak Kampus mmeinta untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

Kasus Baiq Nuril

Selanjutnya ialah kasus kedua yang menimpa Baiq Nuril yang dilecehkan oleh Kepala Sekolah mulai tahun 2012 silam, karena lama kelamaan geram Nuril merekam kekerasan Verbal Kepala Sekolah tersebut bertujuan untuk melaporkan dan memberitahukan pada publik atas tindakan Kepala Sekolah tersebut. Namun kepala Sekolah malah melaporkan Nuril karena telah melakukan pelanggaran hukum Pasal 27 ayat (1) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), berbunyi

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

Karena laporan dari Kepala Sekolah Baiq Nuril yang berprofesi sebagai guru Honorer ini mendapatkan hukuman pidana 6 bulan serta denda 500.000.000 (500 juta) yang telah diputuskan pada 26 September 2018 melalui putusan No. 574K/PID.SUS/2018. Jelas terlihat bahwa secara hukum, sosial serta budaya masih tumpang tindih mengenai keadilan pada korban pelecehan.

Ketidaksetaraan Gender

Seperti yang telah dijelaskan didalam jurnal Jurnal Penelitian Berwawasan Gender dalam Ilmu Sosial, ketidaksetaraan gender mengacu pada akses ke sumber sumber yang langka dalam masyarakat. Ketidaksetaraan ini didasarkan pada keanggotaan kategori gender. Sumber sumber penting ini meliputi kekuasaan, pendidikan yang diperoleh, peranan yang menentukan. Hal hal itu mengakibatkan kurangnya kebebasan dan mengalami paksaan fisik.

Dalam aspek sosial dan budaya yang mengkontruksikan ketimpangan gender. Ketimpangan gender di dalam keluarga serta rendahnya otoritas perempuan dilihat pada sumber sumber yang dianggap langkah dan tidak memperhatikannya, misalnya, mengapa ketimpangan semacam ini terjadi dan membentuk suatu realitas sosial serta mengapa ketimpangan tersebut dilestarikan oleh berbagai pihak.

Menurut Kessler (1976:10), pembagian kerja secara seksual bersumber dari pengalaman awal manusia. Pada awal kehidupan manusia, berburu merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan berburu hampir selalu dilakukan oleh laki-laki. Perempuan dan anak-anak bergantung pada laki-laki untuk memperoleh daging. Pengalaman awal laki-laki yang berbeda dengan perempuan kemudian melahirkan anggapan yang berbeda terhadap dua jenis kelamin ini.

Pandangan Masyarakat Terhadap Perempuan

Dalam beberapa hal serta kejadian, banyak dari masyarakat yang masih menyalahkan perempuan. Seperti, perempuan dilecehkan karena dinilai perempuanlah yang mengundang untuk diperlakukan seperti itu, padahal pakaian serta riasan apapun yang digunakan perempuan ialah untuk mengekspresikan dirinya.

Tidak hanya penilaian masyarakat, keadilan hukum juga masih minim, dibuktikan pada kasus Agni yang susahnya menuntut keadilan untuk dirinya, dan alih alih Agni yang disalahkan bahkan diberi jukukan ikan asin. Kemudian kasus kedua yang menimpa Baiq Nuril yang alih alih mendapat hukuman karena melanggar UU ITE, tanpa mlihat atau mengukur kembali kesalahan yang dilakukan Kepala Sekolah.

Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, NIM : 121611133070  Kelas : B

Komentar

News Feed