oleh

Kades Kacangan Ditahan Kejaksaan, PH Berharap Ada Penetapan Tersangka Baru

Nganjuk – Diduga melakukan tindak pidana korupsi Dana Desa (DD) M Arif Hasanuddin, Kepala Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk pada Rabu (09/01/2019).

Bambang Sukoco, S.H, M.H, Penasehat Hukum (PH) orang nomor satu di Desa Kacangan tersebut, mengatakan bahwa ini adalah pelimpahan tahap dua, setelah berkas dinyatakan P 21 oleh jaksa.

“Tersangka ditahan sejak 15 Oktober 2018 oleh Kepolisian, dan kalau di Kejaksaan mulai hari ini,” katanya.

Dikatakan pula, barang bukti yang disita berupa uang sebesar 18 juta rupiah, yang sisanya belum ada kembali. Jadi kerugian negara ditaksir mencapai ini Rp 310 juta, namun demikian klien-nya tidak memakai semua uang tersebut.

Karena yang 200 juta rupiah diserahkan kepada rekanan/pemborong berinisial FE untuk pembelian aspal namun tidak ada wujudnya, sehingga program yang dijalankan oleh pelaksana kegiatan (PK) Desa Kacangan tidak bisa dilaksanakan akibat tidak adanya aspal tersebut.

“Untuk itu kami selaku Penasehat Hukum dan mewakili tersangka Arif, berharap FE ini bisa di sidik menjadi tersangka juga,” harapnya.

Dipaparkan oleh Bambang, bahwa FE sudah pernah diperiksa sebagai saksi, akan tetapi keterangan yang diberikan FE malah dibalik. FE berdalih bahwa Kades Arif ini mempunyai hutang kepadanya.

“Tapi hutangnya tidak sesuai. Pengakuan hutangnya adalah 69 juta rupiah tapi uang yang diterimanya 200 juta rupiah. Lha ini kan jadi pertanyaan, logikanya kan sisanya itu duit apa,” paparnya.

Bahkan penyerahan uang sebesar 200 juta rupiah kepada FE tersebut disertai bukti kwitansi. “Ada kwitansi yang ditandatangani oleh FE dan saksi yaitu Bhabinkamtibmas desa setempat,” tandas Bambang.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Nganjuk,Eko Baroto mengatakan, modus korupsi yang dilakukan tersangka, yakni dengan mengerjakan proyek fisik fiktif. Kerugian negara dari penyelewengan dana desa ini ditaksir sebesar Rp 310 juta.

Namun, kejaksaan baru menyita barang bukti sebesar Rp 18 juta. Eko Baroto juga menyebut, dalam proyek fisik yang tidak dikerjakan tersebut, salah seorang oknum rekanan kontraktor berinisial FE asal Nganjuk, diduga ikut terlibat menghabiskan uang negara.

“Ada kemungkinan penambahan tersangka lain, selain tersangka kepala desa,” ujar Eko Baroto kepada wartawan.

Kepada penyidik, Kades Arif mengaku awalnya mencairkan DD dari salah satu bank BUMN di Kecamatan Berbek. Setelah itu, dia menemui rekanan FE, untuk mengerjakan proyek pengaspalan jalan desa. Selanjutnya, Arif memberi uang ke FE sebesar Rp 150 juta, untuk segera mengaspal jalan desa. Namun hingga akhir Oktober 2017 pengaspalan tidak terwujud.

Belakangan, ulah Kades Arif tersebut dilaporkan warganya ke Polres Nganjuk dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

Kasi Pidsus Kejari Nganjuk, Eko Baroto mengatakan, tersangka dijerat dengan Undang-Undang 31/1999 tentang tindak pidana korupsi, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Sementara itu, Kades Arif sendiri menolak berkomentar kepada wartawan, saat digiring ke mobil tahanan. Arif yang mengenakan rompi tahanan merah dan peci putih, lalu berjalan tergesa-gesa sambil menghidari wartawan, dengan dikawal petugas Kejari Nganjuk.

Reporter : Agus Bima

Komentar

News Feed