oleh

RSUD Kertosono Terapkan KTR, Begini Penjelasan Hardijono

Nganjuk – Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Hardijono Spsi. S.E MSI mengatakan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di RSUD Kertosono mengacu beberapa peraturan pemerintah seperti Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau.

“Jadi aturan sudah sangat jelas, kita ingin Rumah Sakit yang menjadi tempat masyarakat berobat, benar-benar steril dari asap rokok, mungkin instansi lain masih menyediakan ruang atau tempat merokok, tapi sesuai kebijakan ibu direktur, hingga saat ini kami tidak menyediakan tempat untuk merokok,” katanya saat berbincang dengan akurasinews.com, Senin (25/02/2019).

Selain itu, lanjut Hardijono, pelarangan merokok ini untuk membantu terwujudnya lingkungan Rumah Sakit yang bersih,sehat,aman dan nyaman, juga memberikan perlindungan bagi masyarakat bukan perokok. “Kami akan terus melakukan sosialisasi hingga teguran kepada masyarakat khususnya bagi pegawai rumah sakit dan keluarga pasien untuk tidak merokok di lingkungan kerja kita ini,” paparnya.

Dan hingga saat ini dan ke depannya peran serta semua elemen profesi di RSUD Kertosono diharapkan berperan aktif dalam sosialisasi penerapan Kawasan Tanpa Asap Rokok karena udara segar adalah milik kita semua. “Mari mulai dari kita sendiri untuk menjaga agar lingkungan kita tetap asri serta bebas dari asap rokok,” ungkap pria yang memilih tidak merokok tersebut.

Menurut Hardijono, dampak yang ditimbulkan akibat rokok, tidak hanya merugikan kesehatan perokok dan orang lain yang terpapar asap rokok, tetapi juga mengancam ekonomi keluarga terutama keluarga kurang beruntung yang hidup dibawah garis kemiskinan. “Tentu berpengaruh pada perekonomian keluarga, harga satu bungkus rokok bervariasi ada yang seharga satu kilogram beras bahkan ada yang lebih, kalau sehari lebih dari satu bungkus tentu akan mempengaruhi pengeluaran keluarga,” jelasnya.

Di Indonesia, sebut Hardijono penyebab utama kematian adalah stroke, penyakit kardiovaskular dan kanker, dan salah satu penyebabnya adalah asap rokok, penyakit ini selain menjadi penyebab utama kematian, biaya untuk berobatnya juga tinggi. “Jika ada ungkapan, lebih baik mencegah daripada mengobati itu sangat tepat, lebih baik tidak merokok untuk melakukan pencegahan penyakit daripada harus keluar uang banyak untuk pengobatan akibat penyakitnya,” katanya.

Penerapan KTR ini, kata Hardijono lagi, merupakan upaya perlindungan untuk masyarakat terhadap risiko ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. Selain itu, melalui penerapan KTR, perilaku merokok diharapkan dapat dikendalikan, dan kebiasaan merokok dapat berkurang atau hilang secara bertahap. Dengan demikian kesehatan perokok menjadi lebih baik.

“Semoga dengan penerapan Kawasan Tanpa Rokok ini, kita semua terhindar dari penyakit dan udara dilingkungan kerja kita menjadi jernih, bebas tanpa asap rokok, sehingga tidak ada lagi istilah perokok aktid maupun perokok pasif, karena memang dilingkungan kerja kita tidak ada yang merokok,” harapnya. (Advetorial)

Reporter : Agus Bima

Editor    : Agus Karyono

Komentar

News Feed