oleh

Mas Nova & Kang Su’ud ‘Mayoran’ Bersama Warga Ngluyu

Nganjuk- Bagi para santri Nahdliyin yang pernah tinggal di lingkungan pesantren, budaya lengseran, kentongan, mayoran atau talaman tentu bukan sesuatu yang asing. Bahkan kebiasaan makan bareng dalam satu wadah, baik itu lengser, talaman atau daun pisang secara bersama-sama menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Budaya : Lengseran atau makan bersama-sama ala santri pondok merupakan salah satu budaya atau tradisi pondokan yang patut dilestarikan, dengan tradisi ini tidak ada perbedaan anatara pejabat dan masyarakat kaya maupun miskin (Bima)

Suasana kebersamaan, guyup rukun tergambar ketika menyantap nasi dalam satu talaman, lengser, baki atau pelepah pisang bersama-sama, lauk pauknyapun beragam, ada yang hanya dengan kulupan (sayur mayur dicampur dengan sambal kelapa), tahu dan tempe goreng bahkan ayam panggang atau ingkung dan lain sebagainya.

Temu langsung : Mas Nova Nurul Huda Caleg DPRD Propinsi Jawa Timur selain ingin merasakan nikmatnya makan bersama ala santri juga bertemu langsung masyarakat yang bakal menjadi konstituennya. Dengan makan ala santri ini mas nova berharap bisa langsung berkomunikasi dengan warga dari berbagai tingkatan tanpa sekat (Bima)

Kegiatan itu, kembali terlihat di Balai Desa Sugih Waras Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk. Memang bukan para santri pondok yang menggelar makan bareng itu, akan tetapi ratusan masyarakat se Kecamatan Nluyu dari berbagai desa terkumpul di Balai Desa setempat untuk memperingati Isra mi’raj dan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke 93, Jumat (22/03/2019) malam.

Tradisi Islami : Kang Su’ud Fuadi Caleg DPR RI dapil VIII Jawa Timur ini menilai dengan makan bersama ala santri menunjukkan kebersamaan, guyup rukun adalah salah satu cermin dari kegiatan ini. Kegiatan ini juga salah satu cara untuk menjaga keutuhan NKRI, bagaimanapun juga NU dan NKRI tidak bisa dipisahkan satu kesatuan harga mati (Bima)

Menariknya, dalam kerumunan ratusan warga dibalai desa itu, terlihat membaur bersama masyarakat dan lahap menikmati nasi lengseran adalah Mas Nova Nurul Huda dan Kang Su’ud Fuadi, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Mas Nova Nurul Huda yang merupakan saudara kembar Bupati Nganjuk H Novi Rahman Hidayat tersebut bakal maju menjadi calon anggota DPRD Propinsi Jawa Timur.

Siraman Rohani : Peringatan Isra mi’raj dan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke 93 di Balai Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk adalah salah satu rangkaian acara kebersamaan selain untuk mendapat siraman dari kyai (Bima)

“Ini bentuk kebersamaan, sangat positif sekali kegiatan keagamaan semacam ini, semoga acara-acara seperti ini terus digelar diberbagai wilayah di Kabupaten Nganjuk, sehingga nanti apabila saya terpilih sebagai anggota DPRD Propinsi Jawa Timur, bisa langsung mendengar aspirasi masyarakat,” ungkap Mas Nova.

Tausiyah : Di jaman modern seperti sekarang ini, nilai-nilai agama seakan-akan telah luntur dari sendi-sendi kehidupan karena habisnya waktu masyarakat untuk bekerja meraih ambisi keduniawian. Hal itu tidak dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Ngluyu, secara rutin masyarakat lereng pegunungan kendeng tersebut menggelar pengajian rutin setiap satu bulan sekali untuk meningkatkan iman dan takwa serta silaturahim (Bima)

Sementara itu, Kang Su’ud Fuadi yang merupakan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur XIII ini sangat mengapresiasi acara yang digelar oleh masyarakat Ngluyu tersebut, “Senang sekali, kita bersama sama masyarakat, apalagi sebelum makan bersama ini tadi kita lebih dulu mendengarkan siraman rohani, dengan membaur dan menyapa masyarakat secara langsung kita dapat merasakan suasana kebersamaan, dan acara-acara seperti ini dapat membangkitkan nilai spriritual dan keagaamaan,” katanya.

Shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad : Semoga shalawat dan salam dari Allah kepada Nabi kita Muhammad, Sholawat Nabi merupakan salah satu amal yang seharusnya dilakukan oleh setiap umat Islam. Sebagai bentuk ibadah kepada Allah sekaligus sebagai bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti para remaja putri Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk tersebut bersama ratusan warga melatunkan sholawat nabi diiringi musik rebana atau hadrah pada peringatan isra mi’raj dan Harlah NU ke 93 (Bima)

Untuk diketahui, acara pengajian umum dan sholawat kubro tersebut merupakan acara yang digelar oleh masyarakat Kecamatan Ngluyu, untuk pengajian masyarakat mengagendakan setiap satu bulan sekali namun karena bertepatan dengan hari lahir Nahdlatul Ulama dan Isra mi’raj warga Kecamatan Ngluyu sepakat menjadikan rangkaian pengajian bulanan  di setiap desa menjadi pengajian umum yang ditempatkan dibalai Desa Sugihwaras.

Panitia : Handoko Kamituwo Desa Sugihwaras, ketua panitia acara Isra Mi’raj dan Harlah NU ke 93 sudah menjadi agenda Kecamatan Ngluyu. khusus untuk desa Sugihwaras kegiatan pengajian dengan ditutup makan bersama ala santri atau lengseran dilakukan satu bulan sekali (Bima)

“Alhamdulillah, tradisi makan bersama atau lengseran ini sudah kami lakukan sejak dulu. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kerukunan antar warga, dengan makan bersama setelah mendengar tausiyah dari Pak Kyai terasa lebih nikmat, ini agenda bulanan mas,” ungkap Handoko Kamituwo Desa Sugihwaras yang dipercaya sebaga ketua panitia.

Makan ala santri : Tradisi makan bersama dengan banyak tangan dalam satu wadah, nampan, pelepah pisang, baki atau lengser itu ini sesungguhnya merupakan ajaran Rasulullah SAW (Bima)

Secara keseluruhan rangkaian acara mulai awal hingga akhir berjalan lancar, pengajian ini diikuti laki-laki dan perempuan, remaja maupun dewasa. Untuk jama’ah laki-laki dan perempuan dipisahkan dengan kain panjang. Dibuka dengan sambutan, sholawatan, tausiyah dan ditutup dengan doa serta makan bersama atau lengseran sebagai penutup seluruh rangkaian acara yang dijaga oleh puluhan personil Barisan Serba Guna (Banser) tersebut.

Reporter  : Agus Bima

Editor      : Agus Karyono

Komentar

News Feed