oleh

Cerita Mitos Air Terjun Sedudo dan Legenda Sanak Pogalan

Nganjuk – Dirangkum dari berbagai sumber, Air Terjun Sedudo salah satu destinasi wisata alam Kabupaten Nganjuk memiliki beragam mitos dan menyimpan legenda Sanak Pogalan. Sebagian masyarakat meyakini jika mandi air terjun terjun tersebut pada bulan Sura penanggalan jawa akan membuat awet muda.

Wisata air terjun yang berada di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk tersebut tidak pernah sepi dari pengunjung terutama pada bulan sura di bulan penanggalan jawa. Baik yang hanya sekedar ingin menikmati pemandangannya yang indah, atau memang sengaja ingin membuktikan mitos yang berkembang itu.

Namun tak banyak yang tahu apa yang menyebabkan air terjun di bagian selatan kota Anjuk Ladang itu mempunyai mitos seperti itu. Kalangan sejarah menilai,mitos ini berdasar atas sejarah terbentuknya air terjun itu dan kajian ilmiah. Ada sejarah dan perkiraan secara ilmiah tentang mitos itu. Dari tinjauan sejarah, saat itu air terjun Sedudo dibuat oleh salah satu tokoh warga sekitar bernama Sanak Pogalan.

Menurut cerita, Sanak Pogalan adalah seorang petani tebu yang harus menelan kekecewaan dari peenguasa zaman itu. Karena kekecewaannya inilah, dia kemudian bertapa disekitar sumber air terjun Sedudo. Dalam tapanya, dia berniat untuk menenggelamkan Kota Nganjuk dengan membuat sumber air yang sangat besar.

Dia bersumpah untuk menenggelamkan desanya itu. Dan dibuatlah sumber air yang sangat besar, Karena kesucian Sanak Pogalan inilah, sebagian warga meyakini jika sumber air terjun Sedudo, mengandung beberapa khasiat, salah satunya menjadi obat awet muda.

Selain tentang sejarah, dia juga menduga jika secara ilmiah khasiat obat awet muda dari air terjun Sedudo ini bisa diraba. Pada zaman kerajan dulu, ada tokoh bernama Kyai Curigonoto yang sengaja mengasingkan diri di atas lokasi air terjun.

Dalam pengasingannya itu, Kyai Curigonoto berniat untuk menjadikan hutan itu sebagai kebun rempah-rempah. Karena menganggap jika tanah hutan, bisa menjadi mediayang sangat bagus untuk mengembangkan rempah-rempah yang saat itu menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Kyai Curigonoto lantas meminta Raja Kerajaan Kediri untuk mengirim rempah-rempah ke tempat pengasingannya itu.

Namun, tak begitu jauh dari tujuannya, tiba-tiba gerobak-gerobak yang mengangkut rempah-renpah itu terguling diantara sumber air terjun Sedudo. Lalu rempah-rempah ini tumbuh subur hingga memenuhi hutan yang menjadi tempat sumber air terjun Sedudo. Sehingga, air yang mengalir keair terjun Sedudo banyak mengandung rempah-rempah itu. Secara otomatis, rempah-rempah ini mampu menjadi obat yang multi khasiat, salah satunya adalah membuat wajah tampak bersih. Sehingga kelihatan awet muda.

Mitos ini juga dijunjung tinggi oleh Pemkab Nganjuk sendiri. Buktinya, setiap bulan Syuro, Pemkab Nganjuk menggelar ritual ‘Siraman’. Dimana akan banyak masyarakat Nganjuk yang mandi bersama di lokasi wisata air terjun ini. Memang budaya siraman ini menjadi agenda tahunan Pemkab Nganjuk. Selain untuk menarik wisatawan, juga untuk melestarikan budaya yang sudah ada ratusan tahun silam.

Air Terjun yang terletak di lereng Gunung Wilis tersebut hingga kini menjadi primadona wisata daerah setempat. Terutama, setiap datang Bulan Suro di mana ribuan orang dari sekitar Nganjuk dan luar kota berbondong-bondong untuk melakukan ritual siraman dan berendam, di kolam guyuran air terjun.

Terletak di ketinggian 1.438 meter di atas permukaan air laut, air terjun Sedudo ternyata sejak ratusan tahun menyimpan banyak cerita mistos, dan terus hidup di benak masyarakat setempat sampai saat ini. Berikut ini, matakamera.net merangkum 7 cerita mitos yang berkembang seputar Air Terjun Sedudo, berdasarkan wawancara dengan penggiat pariwisata Nganjuk Aries Trio Effendi.

1. Pada zaman Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk, kawasan Air Terjun Sedudo konon sering digunakan oleh Mahapatih Gajahmada untuk menggelar latihan militer bagi prajurit kerajaan, khususnya pasukan elite mereka yang bernama Bhayangkara.

2. Konon, siapapun yang mandi di kolam yang berada tepat di bawah air terjun bisa mendapatkan berkah keselamatan, awet muda, disembuhkan dari sakit yang dideritanya.

3. Sejak dahulu, kawasan Sedudo sering didatangi oleh pejabat tinggi dan tokoh politik lokal maupun nasional. Khususnya bagi mereka yang meyakini bahwa Air Terjun Sedudo membawa berkah untuk kenaikan pangkat dan jenjang karir.

4. Lokasi air terjun pada zaman Kerajaan Majapahit dikabarkan sering digunakan untuk mencuci senjata milik raja dan patung dalam upacara Prana Prasthista.

5. Pada zaman kerajaan Islam, Sedudo dikenal sebagai kawasan pertapaan Ki Ageng Ngaliman, seorang penyebar agama Islam di wilayah Nganjuk. Dalam perkembangannya, setiap bulan Suro selalu diadakan ritual mandi Sedudo atau siraman Sedudo yang diawali prosesi tarian oleh enam penari berambut panjang yang masih perawan alias dalam keadaan suci.

6. Sebagian orang masih percaya, bahwa Air Terjun Sedudo memiliki pantangan bagi pasangan kekasih. Konon jika membawa pasangan ke lokasi ini maka hubungannya tidak akan awet alias gagal di tengah jalan.

7.  Siapapun tidak boleh melakukan hal-hal buruk selama berada di kawasan Sedudo. Contohnya, tidak boleh berbuat mesum, membuang sampah di kolam dan aliran Sedudo, hingga dilarang  memakai sabun atau sampo saat mandi. Larangan itu jika diabaikan dipercayai akan menimbulkan kesialan bagi yang bersangkutan

Reporter   : Agus Bima

Editor       : Agus Karyono

 

Komentar

News Feed