oleh

Panglima TNI Silaturahmi Alim Ulama Se-Jatim di Ponpes Tebuireng Jombang

Jombang – Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, SIP bersama alim ulama se-Jawa timur mengelar pertemuan di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (20/6/2016).

Sekitar pukul 14.00 WIB Panglima TNI bersama rombongan tiba di Pondok Pesantren Tebuireng. Kedatangannya langsung disambut langsung oleh Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Salahuddin Wahid beserta pengurus pesantren didepan dalem kasepuhan dan Panglima TNI langsung mengelar pertemuan tertutup bersama Pengasuh Tebuireng yang akrab disapa Gus Sholah.

Tidak berlangsung lama, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama Gus Sholah beserta rombongan menuju agenda inti bersilaturahmi dengan para alim Ulama sebagai Jawa Timur di Aula Gedung KH Yusuf Hasyim lantai 3 Ponpes Tebuireng.

Dalam pertemuan silaturahmi Panglima TNI dengan ulama ini diawali dengan lantunan pembacaan ayat suci Al-quran serta dilanjutkan dengan nyanyian lagu Indonesia Raya dan syair lagu kebangsaan Indonesia yang disholawatkan oleh para alim ulama.

Pada sambutannya, Gus Sholah mengatakan bahwa, pertemuan kali ini selain silaturahmi juga dikemas dengan Halal BI Halal bersama-sama para alim ulama dan Panglima TNI. Nama Halal BI Halal ini berasal dari bahasa Arab yang di Indonesia kan, sewaktu itu awal mulanya Bung Karno (Presiden RI pertama) dan Kyai Wahab (KH Wahab Hasbullah) bertemu atas kerisauan pada awal tahun 50an saat itu para elit politik berpotensi bisa memecahkan bangsa dan akhirnya para tokoh agama setelah lebaran dikumpulkan oleh Presiden atas saran dari kyai Wahab dan akhirnya tercetuslah Halal BI halal untuk menyatukan kembali bangsa Indonesia.

“Kalau kita lihat sejarah Indonesia, umat Islam atau tokoh agama islam itu selalu berhasil mengatasi potensi perpecahan bangsa,” ungkap Gus Sholah.

Demi menjaga kesatuan Indonesia ketika itu, Gus Sholah juga menceritan, pada Muktamar NU di tahun 1984, ketika itu menyetujui dasar Pancasila atau mengakui secara resmi. jadi butuh waktu hampir 40 puluhan tahun bagi NU untuk mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

“Dari situ kita bisa lihat persatuan bangsa dan negara. Sekarang kita pun menerima hal itu jangan sampai terjadi kembali sengketa atas beda pilihan dan jika terjadi keretakan atas beda pilihan sehingga menimbulkan keretakan yang potensial dan menganggu negara. Kita harus tetap menjaga keutuhan bangsa Indonesia,” tambahnya.

Selain silaturahmi, kedatangan Panglima TNI tak lepas juga untuk menyampaikan perkembangan kerusakan kejadian yang terjadi di depan Gedung Bawaslu pada 21 Mei 2019.

“Karena itu kita mengundang panglima TNI untuk menyampaikan perkembangan atas kejadian 21-22 Mei kemarin. Kita semua juga turut berdukacita atas tewasnya korban kejadian itu dan kita juga turut berdukacita atas meninggalnya KPPS KPU. Kita mengharapkan Panglima bisa menerangkan atas kejadian tersebut agar kita bisa ikut menjaga bangsa Indonesia,” papar Gus Sholah.

Usai berdialog dengan para alim ulama mengenai peristiwa kerusuhan pada tanggal 21 dan 22 Mei 2019 yang lalu di depan kantor Bawaslu, Jakarta. Menurut penjelasan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, meskipun pasca kejadian itu sudah tidak ada lagi kerusuhan, tetapi TNI tetap menyiagakan sebesar 14 ribu personil untuk mengamankan putusan Mahkamah Konstusi terkait sengketa hasil Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 yang kini masih berlangsung.

Panglima TNI juga mengatakan, ada 14 ribu personil TNI sekarang untuk mendukung kekuatan Polri yang menyiagakan sekitar 16 ribu personil. Sehingga total, jumlah personil keamanan yang disiagakan dari unsur TNI maupun Polri untuk mengamankan putusan MK nantinya yakni sekitar 30 ribu personil. Kemudian yang nantinya dari 14 ribu personil TNI disebar untuk mengamankan obyek-obyek vital seperti Kantor Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu-RI), Kantor KPU-RI, Kantor MK, Istana Negara, dan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI)/ Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI).

“Kita tetap, untuk pengamanan putusan MK dengan kekuatan sama yakni hampir 14 ribu personilTNI. Karena kita harus tetap over estimate, apabila terjadi sesuatu kita siap untuk menghadapi,” terang Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto saat diwawancarai usai acara silaturahmi bersama para alim ulama di lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim Ponpes Tebuireng Jombang, Kamis (20/06/2019) pukul 16.30 WIB.

Panglima TNI juga memprediksi kedepan, kondisi stabilitas keamanan sudah makin kondusif. Namun pada kesempatan itu Marsekal Hadi Tjahjanto sempat disingung terkait kabar penangguhan penahanan mantan Danjen Kopassus, Mayjend TNI (Purn) Soenarko. Panglima TNI menjawab, sebelum ke Tebu Ireng, dirinya telah menelepon DanPOM TNI untuk melakukan koordinasi dengan KabaBinkum TNI untuk menyampaikan kepada penyidik untuk meminta supaya untuk penangguhan penahanan.

“Sudah tidak akan ada keributan lagi pasca kerusuhan kemarin. Untuk Pak Narko (Soenarko) mudah-mudahan segera dilaksanakan, untuk Pak Narko (Soenarko),” pungkas Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Perlu diketahui, selesai mengelar pertemuan dengan para alim ulama, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama rombongan dan Gus Sholah berdoa bersama ke makam Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari dan Mantan Presiden RI ke 4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed