oleh

Warga Jombang Kembali Temukan Bangunan Bata Kuno Era Majapahit

Jombang – Sebuah sumber mata air seperti sendang yang berstruktur batu bata merah kuno ini berada di dasar sumber air sungai. Penemuan batu bata besar yang berjajar rapi ini kembali ditemukan oleh warga di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Minggu (30/6/2019).

Berlokasi di 50 Meter dari akses jalan desa yang dikelilingi oleh persawahan, lokasi itu dikelilingi pohon besar yang juga terpampang plat pemberitahuan larangan dari Dinas Lingkungan Hidup tahun 2015.

Dari keterangan warga setempat, mata air ini memang sudah ada sejak lama. Kemudian para warga baru pada seminggu kemarin (23/6/2019), disaat sedang membersihkan sendang atau sumber air desa yang dipercaya sebagai tempat yang disakralkan ini, terlihat ada mata air muncul di sela-sela tumpukan batu bata merah kuno.

Mengetahui hal itu, pihak kepala dusun dan warga setempat, akhirnya sepakat pada hari ini menggelar acara syukuran di area tempat tersebut dan kembali membersihkan sendang serta sekaligus menguras air sendang ini sampai ke dasar titik mata air.

Namun ketika sejumlah warga mengeluarkan air tersebut, ditemukan bentuk struktur bata merah tertutup lumpur yang kedalamannya baru bisa digali sampai 3 meter ini, hingga akhirnya terlihat struktur bata merah kuno yang berdiameter seperti 5 batu bata biasa. Dan diduga sendang ini memiliki luas kurang lebih 20 meter persegi.

“Awalnya masyarakat ini mau bersih-bersih biar sumber airnya lancar. Ternyata ada itu (batu bata merah kuno) kita ndak tau,” ucap Hamdan ridhoi (27) warga setempat saat diwawancarai akurasinews di lokasi penemuan, Minggu (30/6/2019).

Batu bata merah yang membentang dengan panjang 10 meter ini, terbagi dua sisi berbentuk tembok seperti saluran air, dengan jarak antara dua sisinya kurang lebih hanya seluas 50-100 sentimer.

Menurut Hamdan, warga baru bisa mengali di kedalaman bangunan bata merah ini hanya sedalam 3 meter dari dasar sendang dan masih bisa lebih dalam lagi ketika dikuras airnya serta membersihkan lumpur atau pasir yang berada didalam mata air ini. Namun, dirinya bersama warga setempat juga melihat ada sisi lain didalam struktur bangunan seperti lorong-lorong yang memanjang yang tertutup oleh tanah dan air.

“Batanya ini besar-besar, ukuran batanya berbeda seperti biasanya. Lima kali limpat kemungkinan ukurannya dari batu bata biasanya dan sisanya tadi juga ada terowongan kesana mengarah ke barat dan timur, tetapi belum tau karena belum dibersihkan dan juga kurang keterbatasan tenaga,” jelasnya.

Sementara itu, Kelapa Dusun Sumber Beji, Mustakim (54) mengatakan, sumber air ini diketahuinya sudah lama sejak orang tuanya berada di Dusun tersebut. Dahulu juga sempat ada juru kuncinya yang dibangunkan tempat disana, tetapi setelah penjaga disitu meninggal dan area sendang tersebut kini sudah diambil alih oleh Pemkab Jombang

“Pemkab sudah tahu dan sering disurvei, rencananya akan dibuat wisata tapi dananya belum turun ke Desa. Disitu juga ada papan dari Pemkab Jombang jadi ini aset Desa sudah milik pemerintah mangkanya ada pemberitahuan larangan disana,” terangnya.

Terpisah, Juru Pelihara Situs Bareng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, David Widodo menyebut, bata merah kuno tersebut diperkirakan seperti peninggalan era kerajaan Majapahit.

Dicurigai mirip dengan bangunan candi, karena mirip dengan bata merah kuno yang ditemukan sebelumnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro, dan Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang beberapa waktu lalu. Tetapi dirinya belum bisa memastikan detail lebar dan ukuran bata merah karena sekarang sendang kembali tertutupi air.

“Ini bisa permukiman, bisa kanal air, kemungkinan ini bisa candi, karena bentang panjangnya 10 meter. Saya juga belum bisa mengukur pastinya, karena strukturnya sudah tergenang air lagi,” ungkapnya.

David Widodo juga menyampaikan, temuan warga tersebut sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Rencananya besok senin (1/7/2019), pihak Dinas terkait akan turun ke lapangan bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan untuk melakukan pengecekan.

“Rencana besok dari dinas dan BPCB ngecek ke lokasi,” pungkasnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed