oleh

Bangunan Era Majapahit di Sendang Sumberbeji Kembali Digali

Jombang – Struktur bangunan batu bata merah era Majapahit yang dipastikan untuk suplai air bersih ke komplek pemukiman di dasar sendang atau embung Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben Kecamatan Ngoro, Jombang, Jawa Timur, kini mulai diperlebar dengan alat berat bego (backhoe)

“Pengalian ini, kita dibantu oleh warga setempat dan alat berat bego dari pemerintah agar lebih cepat bila diurug. Nanti kalau ada yang nyantol (tersangkut) satu, baru nanti digali secara manual agar situs ini tidak rusak,” ungkap Wandoko Sutowo Yudha, Kepala Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro ketika diwawancarai sejumlah awak media dilokasi.

Pada pengalian itu, tak hanya warga setempat yang ikut juga menyaksikan dan membantu proses pengalian, tetapi juga dipantau oleh perwakilan petugas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang serta Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan agar dalam tahapan pengurukan ini dapat dicermati supaya tidak mengenai situs tersebut.

Menurut keterangan Kades Yudha, dalam pengalian ini pihaknya telah mendapati temuan struktur bangunan lebih lebar mirip bentuk irigasi kolam (bak kontrol) disisi timur dan berbeda daripada sebelumnya.

“Disebelah sana juga ada tatanan batu bata yang dasar itu sampai luas, diameternya lebih besar, tapi kita belum bisa menggali semuanya karena tertutup lumpur. Soalnya kalau dilihat, situs yang ada disebelah Utara ada sumur blumbun yang juga untuk menghidupi para warga yang ada disitu,” kata Kades Kesamben.

Sementara sewaktu pengalian tidak mengalami kendala sama sekali. Kades berkata, hanya saja tadi dalam pengalian manual kurang, rencananya baru keesoakan hari para masyarakat setempat bakal banyak yang membantu proses tersebut, supaya bisa menampakkan temuan lagi, agar terlihat apa yang sebenarnya ada disini.

“Pengurukan ini tujuannya untuk ketahanan dasar situsnya agar lebih kelihatan indah. Bila nanti terlihat bagus, rencana kedepannya Insyaallah mungkin, dibuat wisata religi dan satunya untuk wisata tempat biasa. Disamping itu kita juga uri-uri,” jelasnya.

Kades WS Yudha juga berharap kepada warga Jombang agar bersama-sama membantu pelestarian situs ini. Karena menurutnya, temuan tersebut bukanlah untuk kepentingan pribadi namun untuk masyarakat dan negara, kalau ada situs pasti akan ada sejarah.

“Kalau sudah jadi, airnya akan kita alihkan ke masyarakat kembali, dan juga dijadikan embung untuk mengairi area persawahan disekitarnya yang sekitar 35 hektar. Bila airnya dipakai kemasan tidak saya perbolehkan, karena yang enak itu orang-orang tertentu,” terangnya.

Perlu diketahui sebelumnya, Arkeolog BPCB Trowulan, Nugroho Harjo Lukito menduga bangunan batu bata merah kuno di dasar sendang itu merupakan bangunan saluran air berupa parit tertutup. Hal tersebut terlihat dari struktur bagian bangunan yang membentang menyerupai kanal atau saluran air atau bekas candi.

Adapun, struktur bata merah itu sendiri memiliki lebar rata 1,5 meter serta ukuran panjang sekitar 14 meter yang membentang dari barat ke timur. Bagunan ini juga memiliki sisi sama di kiri dan kanan. Sedangkan untuk kedalamnya sekitar 205 sentimeter dan pada lubang antara dua sisi hanya selebar 55 sentimeter, cukup untuk dimasuki satu orang dewasa didalamnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

 

.

Komentar

News Feed