oleh

Film Sultan Agung Diputar Pada Malam Kemerdekaan

Jombang – Ikatan Pemuda Jetak Sidokerto (IPJS)  menggelar nonton bareng (nobar) film berjudul Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (selanjutnya disebut Sultan Agung) pada, Jum’at, 16 Agustus 2019

Sedikitnya 50 orang hadir memenuhi pelataran rumah warga di Dusun Jetak Desa Sidokerto dalam pemutaran film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini. Film Sultan Agung diputar setelah warga kenduri dan do’a bersama untuk menyambut hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 74 tahun.

“Pada malam hari ini, kami suguhkan film Sultan Agung untuk kembali belajar tentang sejarah bangsa Indonesia secara lebih luas dengan melihat film,” kata Reza, koordinator acara.

Film berdurasi 148 menit tersebut mengisahkan seorang raja dari Kerajaan Mataram bernama Raden Mas Rangsang yang mendapat gelar Sultan Agung Hanyakrukusuma setelah ayahnya Panembahan Hanyokrowati, wafat.

Raja ke 3 Kerajaan Mataram itu, memiliki tugas besar ketika menggantikan peran sang ayah. Sultan Agung harus menyatukan adipati-adipati ditanah Jawa yang sedang tercerai-berai oleh keadaan politik VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen di bawah panji Mataram.

Di sisi lain, hati Sultan Agung tak lepas dari pergolakan. Ia harus mengorbankan cinta sejatinya kepada Lembayung dengan menikahi perempuan ningrat yang bukan pilihannya. Tentu bukan perkara gampang bagi Sultan Agung untuk menerima perempuan ningrat tersebut di hatinya.

Dilansir dari penggalan film Sultan Agung di filmindonesia.or.id, “Kemarahan Sultan Agung kepada VOC memuncak ketika ia mengetahui bahwa VOC tidak memenuhi perjanjian dagang dengan Mataram dengan membangun kantor dagang di Batavia,”.

Sultan Agung bersama para adipati dan rakyat pengikutnya lantas mengibarkan Perang Batavia sampai meninggalnya Coen dan runtuhnya benteng VOC. Dalam perjuangan ini, ia juga harus menghadapi berbagai pengkhianatan. Menjelang akhir hidupnya, Sultan Agung menghidupkan kembali padepokan tempatnya belajar, melestarikan tradisi dan karya-karya budaya Mataram.

Sementara, Muhammad Irfandi Bahtiar mengatakan, memaknai kemerdekaan rakyat Indonesia bisa memperingatinya dengan cara masing-masing. IPJS memilih nobar film sejarah untuk belajar dan mencari hakikat dari kemerdekaan itu sendiri.

“Karena kami rakyat biasa, cara mengekspresikan kemerdekaan, ya, dengan berkumpul bersama serta mengingat kembali bahwa kita bersepakat untuk menjadi saudara; Bangsa Indonesia,” katanya.

Film bergenre drama kolosal ini tidak sepenuhnya bisa dijadikan rujukan sejarah. “Namun, masyarakat dapat mengambil pelajaran yang positif dari film Sultan Agung, seperti; melestarikan tradisi Jawa dan karya-karya budaya Indonesia yang masih banyak belum kita ketahui,” pungkasnya.

Reporter : Fandi/Saha

Komentar

News Feed