oleh

Menristekdikti : Ponpes Harus Kuasai, 3 Literasi Percepatan Teknologi Menuju Era 4.0

Jombang –Mendorong pentingnya percepatan teknologi di kalangan Pondok Pesantren di sektor pendidikan, terlebih harus memahami tiga literasi teknologi yang harus dikuasai. Hal itu disampaikan,  Prof. H. Mohamad Nasir, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) ketika menghadiri acara seminar serangkaian kegiatan Harlah Ponpes Tebuireng ke 120 tahun, di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (24/8/2019).

Menristekdikti sangat mengapresiasi percepatan teknologi yang ada di lingkungan pesantren. Terbukti secara umum masyarakat, penguna teknologi semakin cepat dibandingkan penyiapan terhadap teknologi sekarang ini, sehingga kemunculan resiko-resiko yan terjadi terhadap teknologi, seperti contohnya hoax. Kemunculan itu, sering kali akibat dari pengunaan teknologi yang tidak bertanggung jawab, tidak siap dan hal itu bisa terjadi.

“Maka dari itu, saya ingin mendorong ponpes memahami teknologi-teknologi yang baik. Ada tiga literasi yang bisa menjadi penting yakni, data literation, teknologi literation, dan human literation. Jadi  tiga ini harus kita kuasai, kalau tidak pasti tidak akan maju,” ungkap M Nasir kepada akurasinews, sesuai acara seminar yang bertajuk ‘Peran dan Sumbangsih Ormas Islam Dalam Mencerdaskan Bangsa’ di Tebuireng, Jombang.

Selain itu, Menteri Nasir juga mengigatkan kepada para santri-santri, agar pendidikan agama tetap ditanamkan satu pemikiran dengan rasa nasionalisme, yang mana pastinya akan muncul rasa kecintaan terhadap bangsa Indonesia, dan jangan sampai mengadu-dombakan negara dan bangsa untuk mengancam NKRI.

“Jadi didalam pendidikan itu kita memunculkan rasa nasinalisme, agar kita bisa memadukan antara agama dan negara bisa menjadi satu itu yang terpenting. Seperti ungkapan yang dicetuskan oleh Kyai Wahab dalam rasa perjuangannya, Hubbul Wathon Minal Iman  yang memiliki arti, cinta tanah air sebgian dari iman. Empat pilar kebangsaan mari kita jaga dengan baik yaitu NKRI, pancasila sebagai ideologi negara, UUD 45 sebagai dasar negara dan semboyan Bhineka Tunggal Ika,” terangnya.

Sementara saat disingung mengenai evolusi teknologi menuju era 4.0 yang bakal di gagas oleh pemerintah. Nasir menerangkan, pada era digitalisasi menuju evolusi 4.0 yang kini masih dalam tahapan proses sampai di tahun 2024 hingga bisa di tahun 2030. Bahkan, kalau melihat di kota-kota yang berada di Papua sudah terlihat mereka disana sudah mengunakan handphon dan hal itu adalah modal awal dari kemajuan Indonesia kedepan.

“Kita masih proses, tidak bisa kita langsung membalikkan tangan. Tetapi teknologi harus kita terus gencarkan, awal dari majunya teknologi adalah penguna handphone dan kita sekarang bisa memanfaatkan dari teknologi itu bagaimana teknologi yang ada kita manfaatkan yang baik dari penyedia teknologi menuju ke era 4.0,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Kedatangan Menristekdikti di acara serangkaian kegiatan Harlah Ponpes Tebuireng ke 120 tahun dalam seminar pendidikan yang bertajuk, ‘Peran dan Sumbangsih Ormas Islam Dalam Mencerdaskan Bangsa’ ini tidaklah sendiri. Namun Pengasuh Tebuireng, Sholahuddin Wahid juga mengundang narasumber yang terbagi dua sesi di seminar tersebut yang berada di Gedung Yusuf Hasyim di lantai 3, Ponpes Tebuireng.

Pada sesi seminar pertama diisi tiga  narasumber yakni,Prof. H. Mohamad Nasir, Menristekdikti, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah. Al Habib Ali bin Muhammad Al Jufri, Ketua Umum PB Al Khairat, serta di sesi kedua dilanjutkan oleh narasumber, Prof Dr Ir KH Mohammad Nuh, DEA, Ketua Bidang Pendidikan PBNU dan H Mohammad Zahri, Ketum Jaringan Sekolah Islam Terpadu.

Reporter: Taufiqur Rachman

 

 

Komentar

News Feed