oleh

Suroan, Perwira Polisi Jombang Mandikan Pusaka Warisan Leluhur

Jombang – Tidak disangka seorang abdi negara memiliki kecintaan terhadap pusaka warisan peningglan leluhur. Hal itu tertanam pada diri Inspektur Polisi Satu (Iptu) Sulaiman, sebelum menjadi perwira polisi dirinya sudah menyimpan koleksi keris yang didapat dari orang tuanya sejak masa kecil dibangku sekolah hingga sekarang menjadi kolektor benda pusaka di kediamannya di Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Ditemui dikediamannya dengan mengenakan seragam polisi serta memakai blangkon semakin menunjukkan bahwa perwira yang bertugas sebagai Kanit Lakalantas Polres Jombang berpangkat dua balok berwarna emas ini penyuka benda-benda pusaka baik keris maupun tombak yang sudah dikoleksinya.

Bertepatan suroan (1 Muharram) benda pusaka antik nan bertuah asli Nusantara yang biasanya menjadi ageman atau pegangan oleh orang-orang penghobi maupun pecinta kepercayaan dari setiap pamor (kedudukan) itu, selalu dimalam suro dimandikan, sebagaimana untuk perawatan pusaka warisan leluhur ini tetap terjaga setiap tahun baru Islam tersebut. Hal itu disampaikan pria kelahiran 1 Oktober 1966 di teras rumahnya yang juga terlihat beberapa pusaka tombak dan keris tertata rapi di rak kayu Iptu Sulaiman.

“Suka barang pusaka ini sejak kecil SMP sekitar 40 tahun lebih, yang awalnya cuman punya beberapa koleksi dari orang tua dan sekarang sudah ada 800 an, mulai dari keris dan diantaranya 50 sampai 100 itu pusaka jenis tombaknya. Namun saat suroan tidaklah memandikan sendiri ratusan keris, tetapi saya selalu mengajak para saudara bersama-sama merawat benda keris pusaka warisan peninggalan leluhur,dengan memakai baskom yang sudah diberi air jeruk serta bunga setaman dan minyak wangi setiap malam suro,” ungkap Iptu Sulaiman kepada awak media dirumahnya, Minggu (1/9/2019).

Selain menunjukkan koleksi-koleksi keris dan tombak favoritnya dari zaman Kerajaan era Mataram, Singosari hingga Majapahit dan yang paling muda seperti bernama Ngadi Boyo nama pusaknya dari Nganjuk semua lengkap. Setelah menunjukkan ratusan pusaka lainnya yang berada di ruangan kamar berukuran 4×6 dilantai atas tempat tinggalnya, bapak polisi dua anak ini sebagai kolektor keris tidak mendapatkan sendirian, melainkan mencari bersama teman dan sanak saudaranya. Bahkan, ia mengaku setiap ditawar orang tidak pernah dikeluarkan dan termasuk keris yang seharga 1 miliar di medsos yang dilihatnya di video YouTube juga ada dikoleksinya.

“Ada yang didapat dari hasil kerja keras saya sendiri serta termasuk peninggalan orang tua dan ada pula yang dari teman atau saudara-saudara, yang istilahnya itu bareng-bareng kita uri-uri peninggalan leluhur. Dulu sempat pernah ditawar orang 400 sampai 500 juta tetapi tidak saya kasihkan, karena kebetulan kita suka dan yang terpenting untuk menyelamatkan benda peninggalan para leluhur,” terangnya

Lebih lanjut menurut Sulaiman, alasan khusus diambilnya koleksi keris adalah benda pusaka tersebut terbuat dari hasil tangan para empu nenek moyang sehingga memiliki bentuk nan indah dari pamornya ada luknya. Tak hanya itu saja, keris bisa dikatakan benda kramat yang sakral peninggalan leluhur dan terkadang orang Jawa menyebutnya piyandel atau Sipat Kandel yang juga punya makna tersendiri melalui dapur ataupun pamor, besi, dan baja sampai berbentuk keris atau tombak.

“Keris ini pamornya bermacam-macam, setiap bentuknya memiliki ciri khas masing-masing dari luk atau lekuknya, contohnya kalau era Majapahit kerisnya agak kecil terus ada seperti tindik. Nilai filosofis yang diambil dari pusaka ini seperti saya sebagai abdi negara itu busa untuk mengabdi buat masyarakat dan juga buat negara istilahnya begitu. Dengan menyelamatkan aset peninggalan leluhur, kita bisa mendapatkan ketentraman batin serta kepuasan sendiri dan juga untuk menjaga prilaku kita didalam bertugas di kepolisian,” pungkasnya.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed