oleh

Demi Anak, Wali Murid Rela Bayar Mahal Seragam Sekolah Tanpa Kwitansi

Jombang  – Mahalnya biaya seragam sekolah kembali dikeluhkan oleh salah satu wali murid di SMPN 5 Jombang. Karena orang tua siswa ini, terpaksa harus mengeluarkan dana satu juta lebih ke pihak sekolah tanpa menerima bukti pembayaran secara detail.

“Saya sudah melunasi biaya seragam batik dan ongkos jahitnya untuk seragam gratis dari Pemkab. Tadi bayarnya sampai Rp 1.160.000, itupun tidak hanya untuk seragam batik saja. Tetapi itu juga untuk bayar ongkos jahit seragam gratis,” ungkap YT yang enggan disebutkan namanya untuk dipublikasikan saat ditemui sejumlah awak media, Kamis (26/9/2019).

Ia juga menjelaskan, pembayaran kebutuhan anaknya di sekolah ini sengaja dilunasinya, agar putranya tidak minder dengan teman-teman sebangku di sekolahnya. Meskipun kewajiban untuk membayar sudah terpenuhi, tetapi seragam tersebut tak juga kunjung jadi. Bahkan, dirinta juga tidak mendapatkan bukti pembayaran dari pihak sekolah.

“Sempat saya tanyakan, tapi katanya sengaja tidak memberikan kwitansi. Dan cukup di catat di buku saja waktu itu bahwa saya sudah melunasi,” jelasnya

Kemudian, ketika ditanyai jumlah yang harus dikeluarkan untuk seragam batik. YT mengungkapkan bahwa, untuk biaya seragam itu, dirinya harus membayar uang sebesar Rp 980 ribu rupiah, seragam itu untuk kain batik  atasan serta bawahan dan juga termasuk ongkos jahitnya.

“Biaya itu sudah termasuk untuk ongkos jahit seragam gratis dari Pemkab. Jadi nanti kita menerima sudah bukan dalam bentuk kain, tapi seragam dan itu seragam sekolah lengkap,” imbuhnya.

Telatnya pembagian seragam ini hingga sampai pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung, bahkan beberapa pelajar masih menggunakan seragam lama. Dan untuk satu-satunya seragam yang telah rampung hanya seragam batik.

Ditemui terpisah, mengenai keluhan wali murid tersebut perihal ada dugaan pungutan di SMPN 5 Jombang, tanpa disertai kwitansi pembayaran mendapat respons dari pihak sekolah.  Menurut kepala SMPN 5 Jombang, Bambang Widjanarko, sekolah enggan memberikan bukti pembayaran lantaran takut salah, hal itu diakuinya. Sebab, pihaknya sejak dari awal sudah menyampaikan di hadapan para wali murid beserta kejaksaan dan polisi saat rapat. Ia juga berdalih, sekolah hanya menjalankan prosedur yang ada.

“Tidak ada kwitansi, meskipun uang sudah dibayar ke sekolah, jadi kita tak ingin disalahkan. Ya sekolah kan tidak menjual, tidak berjualan, jadi saya rasa tidak perlu kwitansi. Intinya kami sudah komunikasi dengan komite juga untuk petugas kami juga punya catatan khusus. Dan wali murid juga tetap ada bukti tandatangan kok,” ujar Bambang.

Bahkan menurutnya sejak berdinas di sekolahan itu, praktik seperti ini sudah berlangsung selama lima tahun yang lalu. Justru kalau ada tanda bukti pembayaran, bisa jadi nanti pihak sekolah dinilai menjual belikan barang tersebut. Bambang juga menanggapi perihal keluhan wali murid, atas lambatnya progres pengerjaan seragam, bahwa hal itu wajar. Sebab pihaknya sampai hari ini hanya baru bisa memberikan seragam batik.

“Jadi kenapa batik kita dahulukan, karena kalau pramuka saya kira semua sudah punya sejak SD. Jadi yang kain pramuka sekarang masih dijahit. Begitu juga untuk yang seragam khusus dari sekolah, masih proses juga,” urainya.

Sedangkan saat disinggung terkait orang tua siswa harus membayar lengkap Rp 1,1 juta termasuk ongkos jahit. Bambang menerangkan secara rinci, untuk kedua seragam khusus serta batik masing-masing hanya dihargai Rp. 200 ribu rupiah. Namun, untuk ongkos jahit dua seragam itu ditambah dua kain gelondongan dari Pemkab, dihargai total Rp. 300 ribu.

“Ongkos jahitnya masing-masing Rp. 75 ribu, kalau empat seragam berarti kan pas. Jadi totalnya cuma Rp. 700 an ribu, kalau ditambah dua kain seragam tadi. Jadi kalau lebih sejuta biasanya sisanya itu dipakai buat momen-momen tertentu, seperti pawai budaya, HUT sekolah, Purnawiyata dan beberapa kegiatan lain,” pungkasnya.

Keterangan Foto:

Salah satu kai  seragam batik sekolah SMP di Jombang, yang dibeli secara mandiri oleh wali murid.

Reporter : Taufiqur Rachman

Komentar

News Feed