oleh

Formalitas Aturan, Ditengah Rencana Pembangunan “Ekowisata Pasuruan Mangrove Park”

Pasuruan Kota – Hutan mangrove sebagai salah satu sumber potensi di wilayah pesisir sudah seharusnya menjadi perhatian penting. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat ”

Hal tersebut mempunyai arti bahwa kekayaan sumber daya wilayah pesisir tersebut dikuasai oleh negara untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan harus dikelola sehingga memberi manfaat, baik untuk generasi yang sekarang maupun generasi yang akan datang.

Selain itu, sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.03/MENHUT/V/2004 disebutkan, hutan mangrove merupakan jalur hijau daerah pantai yang mempunyai fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi. Dengan standar tersebut wilayah hutan mangrove tidak dialokasikan untuk kegiatan pertambakan atau yang lain

Disamping itu, Ekosistem mangrove mempunyai banyak fungsi, diantaranya adalah sebagai tempat tumbuhan dan hewan berinteraksi secara berkesinambungan.

Banyak jenis hewan yang menggunakan hutan mangrove untuk mencari makan dan berlindung. Manfaat lain dari hutan mangrove adalah sebagai stabilisator tepian sungai dan pesisir seperti pengendalian erosi pantai, menjaga stabilitas sedimen dan bahkan turut berperan serta dalam menambah perluasan daerah daratan.

Sekaligus perlindungan garis pantai dan berperan penting memfungsikan ekosistem sekitarnya, termasuk tanah basah pesisir, terumbu karang, dan lamun.

Pada kenyataan perundangan dan peraturan pemerintah itu seolah hanya formalitas dan kurang mampu memberikan perlindungan secara efektif pada area mangrove di pesisir pantai.

Kebijakan pemerintah tersebut jika tidak diimplementasikan dengan baik maka dapat menyebabkan daerah pesisir pantai terkena abrasi air laut yang menggerus daratan dan berimbas terhadap berkurangnya daratan karena banyak faktor seperti tingginya permintaan lahan di kawasan pesisir untuk keperluan tambak, pemukiman, maupun industri.

Salah satu wilayah yang mengalami hal tersebut adalah wilayah pesisir Kota Pasuruan Kota Pasuruan dengan luas wilayah kurang lebih 35,29 Km2 merupakan daerah pantai utara Jawa dengan panjang garis pantai sekitar 10 km berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Meskipun tidak terlalu luas, tetapi Kota Pasuruan memiliki hutan mangrove yang cukup luas.

Berikut adalah daftar hutan magrove Kota Pasuruan diantaranya adalah di Kelurahan Blandongan dengan luas 68.450 M2, Kelurahan Kepel seluas 36.710 m2, Kelurahan Mandaranrejo Luas 29.630 M2, Kelurahan Gadingrejo Luas 40.062 M2, dan Kelurahan Tambaa Luas 6.750 M2. Dan Luas total Hutan Mangrove di Kota Pasuruan adalah 181.602 M2

Sumber : Hasil survey Kelompok Masyarakat Peduli Pesisir (KMPP) Kota Pasuruan

Ancaman yang nyata terjadi di daerah pesisir Kota Pasuruan ini adalah abrasi yang semakin menggerus wilayah di pesisir pantai Pasuruan “Abrasi pantai di Kota Pasuruan, Jawa Timur, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini kondisinya semakin memprihatinkan karena air laut telah masuk ke pemukiman penduduk setempat.

Jika kondisi abrasi ini terus dibiarkan maka kerusakan lingkungan di sekitar pantai makin bertambah parah, kenaikan air laut ke daratan mencapai sekitar 0,8 sentimeter per tahun. Jika kondisi itu terus dibiarkan, dalam kurun waktu 100 tahun dipastikan pemukiman penduduk sudah menjadi genangan air.

Untuk mengatasi abrasi pantai yang semakin parah di pesisir Kota Pasuruan diperlukan pelestarian ekosistem mangrove.

Salah satu potensi yang selama ini terabaikan adalah hutan mangrove di Kelurahan Gading Kota Pasuruan.
Berdasarkan pengamatan langsung tentang gambaran keadaan hutan mangrove di Kelurahan Gading Kota Pasuruan meliputi Ketebalan, Kerapatan, Jenis,Objek biota, Pasang surut air laut, Karakteristik kawasan dan Aksebilitas layak untuk dijadikan kawasan konservasi.

Oleh karena itu Kelompok Masyarakat Peduli Pesisir (KMPP) menggandeng Pemerintah Kota Pasuruan dan pihak lain untuk berusaha mengembangkan ekowisata mangrove sebagai upaya pelestarian lingkungan pantai dan mendongkrak kepariwisataan.

Ekowisata ini akan dibangun dengan nama “Pasuruan Mangrove Park” Hal ini sudah dimulai dengan program penanaman di hutan mangrove seluas 4 ha dalam rangka mempertebal hutan mangrove yang ada di Kelurahan Gadingrejo Kota Pasuruan

“Pasuruan Mangrove Park” yang terletak di pantai utara Pasuruan, menyajikan suatu konsep wisata pesisir dan sebagai konservasi alam. Ekowisata mangrove merupakan kondisi yang sangat unik serta model wilayah yang dapat dikembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan mangrove.

Ekowisata mangrove park Pasuruan menyajikan suatu konsep wisata pesisir pantai yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan.

Itikad ini harus dibangun dengan komitmen oleh semua pihak baik Masyarakat, Pemerintah, Kelompok Masyarakat dan pemilik modal swasta atau pihak pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian hutan mangrove.

Reporter : Ardi Prasetyo
Editor      : Pujiyono

Komentar

News Feed