oleh

Curahan Hati Seorang Single Parent, Ditengah Pandemi Covid 19

Pasuruan –  “Bingung, ingin sekali menjerit, harus kemana mengadu, Tuhan hamba mengaku bukanlah orang suci, hamba telah banyak melakukan kesalahan dan dosa. Hamba tidak ingin mendapat gelimangan harta, hamba hanya ingin keluarga hamba tidak kelaparan, itu saya katakan berulang kali mas ketika suntuk tidak tahu harus memberi makan apa kepada anak-anak saya,” begitulah jeritan hati Evi seorang single parent (janda) berusia 46 tahun setelah Empat bulan lamanya menganggur akibat tempat kerjanya ditutup dampak dari pandemi Covid -19 di WiIayah GempoI Kabupaten Pasuruan ketika berbincang dengan pewarta akurasinews.com

YuIiani Ningsih begitulah nama lengkapnya, nama Evi dia gunakan sejak tahun 2016 lalu. Tepatnya saat dia harus memilih bekerja sebagai Ladies Club (LC) atau Pemandu Lagu dari satu café ke café lain untuk menemani para lelaki yang mencari hiburan dengan bernyanyi di room karaoke. Bukanlah suatu cita-cita atau tujuan hidup bekerja sebagai seorang LC, kondisi ekonomi dan harus membesarkan 5 anak bukanlah suatu hal yang mudah bagi seorang single parent.

Sebelum memutuskan bekerja sebagai seorang LC, Evi sebelumnya bekerja di Kota Surabaya, bergabai pekerjaan telah dilakoninya, mulai dari bekerja menjaga toko pakaian hingga di tempat catering. Dia memutuskan bekerja sebagai LC karena memang kondisi ekonomi, kelima anaknya membutuhkan biaya hidup. Menatap anak-anaknya ketika tidur dan mendengarkan rengekanya ketika meminta uang jajan dan kebutuhan sehari hari membuatnya memutuskan bekerja sebagai LC

Jika selama ini mungkin sebagian masyarakat menilai bekerja sebagai LC adalah pekerjaan mudah, dalam kenyataan tidak demikian, setiap hari dia harus menempuh jarak sekitar 12 kilometer untuk menuju tempat kerjanya, “Tidak ada pekerjaan yang tidak beresiko, menjadi pemandu lagu bukanlah cita-cita saya, ini saya lakukan karena keadaan,” katanya

Sebagai tulang punggung keluarga, Evi tidak mempedulikan waktu, siang, malam, panas dan hujan dia tetap berangkat ketika pekerjaan memanggil, “Kalau tidak berangkat, bagaimana saya akan memberi makan anak-anak, saya tidak berharap lebih, semoga pemerintah segera memberikan sedikit kebijakan kepada kami para pekerja tempat hiburan, dengan memperbolehkan tempat kerja kami buka kembali, semua aturan protokol kesehatan kami siap jalankan, tapi kami mohon buka kembali tempat kerja kami,” katanya penuh harap

Sejak Pemerintah memutuskan menutup tempat hiburan malam, 5 bulan yang lalu, sejak itu pula Evi hanya berdiam diri dirumah tanpa ada usaha sampingan, untuk bertahan hidup dia mengaku menggunakan tabungan yang selama ini disimpannya sedikit demi sedikit dan untuk saat ini jumlahnya juga semakin menipis, “Kami benar-benar berharap Pemerintah memberikan kebijakan dengan membuka kembali tempat kami bekerja, agar dapat mencukupi kebutuhan keluarga,” harapnya lagi

Dampak penutupan tidak hanya dirasakan Evi, para pemilik café juga banyak yang gulung tikar, karena tidak ada pemasukan, sedangkan angsuran pinjaman terus berjalan, “ Saya juga punya angsuran, para pemilik café juga punya tanggungan, selama lima bulan ditutup dan hanya dirumah saja, kami semua kebingungan untuk kebutuhan hidup,” katanya

Mewakili teman sesama pekerja hiburan malam, Evi berharap kepada pemerintah untuk segera kembali mengizinkan café buka. Jika larangan itu terus diberlakukan bukan tidak mungkin nantinya keluarga para pemilik sekaligus pekerja tempat hiburan malam kelaparan, “Makan adalah kebututan pokok yang harus dicukupi mas, kalau untuk makan saja tidak bisa, bagaimana nantinya keluarga kami ini,” keluhnya

Wartawan : Khoirul Anam

Editor         : Pujiyono

Komentar

News Feed