oleh

Pasar Keris Kebonagung Pasuruan, Media Pelestarian Budaya Tosan Aji

Pasuruan Kota – Para penggiat, pemerhati dan penggemar Tosan Aji di Kota Pasuruan sebenarnya sangat besar.
Selama ini belum memiliki fasilitas sebagai wadah atau media dalam berkomunikasi secara langsung.

Kondisi tersebut yang mendorong Paguyuban Pecinta dan Pelestari Tosan Aji SATRIO SUROPATI bekerjasama dengan Pemkot Pasuruan dalam hal ini Dinas Pasar membuka pasar keris yang berlokasi di pasar Kebonagung.

“Kami lega dan sangat berterimakasih kepada Pemkot Pasuruan yang telah memfasilitasi kami para penggiat dan penggemar keris. Pasar tematik yang kami gagas ini bukan sekedar tempat jual beli keris, tapi juga sebagai destinasi wisata budaya” ujar Rachmad Tjahjono atau panggilan akrab nya Mas Yono salah pelestari Tosan Aji Kota Pasuruan kepada pewarta media ini

Hal ini, kata Mas Yono suatu bentuk komitmen pemkot dalam rangka melestarikan budaya kita” Dengan adanya pasar ini, kini masyarakat pecinta keris tidak lagi kesulitan melakukan komunikasi baik bertukar informasi maupun bertransaksi,” jelasnya

Sisi lain keris, lanjut Mas Yano bukanlah sekedar jenis senjata tikam untuk mempertahankan diri bagi para prajurit atas serangan musuh di zaman kerajaan masa lampau, tetapi juga benda yang lebih di kenal dengan “Tosan Aji” itu merupakan simbol kekuasaan yang dianggap mengandung mithos tertentu yang oleh sebagian dari mereka di jadikan sebuah ideologi.

Kuatnya ideologi dan pengakuan mithos terhadap keris mengakibatkan mampu membuat sekat sekat sosial dan budaya pada masyarakat komunitasnya. Bahkan keris di representasikan mampu menggeser nilai budaya yang di anggap adhiluhung itu menjadi nilai ekonomi bagi komunitas masyarakat yang keberadaannya selalu dipertahankan.

Karena keris memiliki nilai mithos baik secara kultural dan historis, ia mampu bertahan dan eksis menjadi komoditas ekonomi di tengah masyarakat komunitasnya.

“Persoalannya akankah produksi keris konvensional di era sekarang ini akan merusak nilai estetika dan nilai ekonomis perdagangan keris. Hal tersebut ternyata tidak begitu berpengaruh,” paparnya

Logikanya, kata Mas Yono lagi, masing-masing produk yang berdasarkan genre, dan tahun pembuatannya masing masing telah memiliki pangsa pasar yang konstan.

“Keris sebagai artefak budaya merupakan hasil dari sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat” urai Mas Yono

Hasil kebudayaan, sebut Mas Yono berkaitan dengan sistem simbol, yaitu merupakan acuan dan pedoman bagi kehidupan masyarakat dan sebagai sistem simbol, pemberian makna, model yang ditransmisikan melalui kode-kode simbolik.

Reporter : Ardy Prasetyo
Editor      : Pujiyono

Komentar

News Feed