oleh

Terpapar Covid 19, Sebelas Saudara Tersisa Dua, Kisah Nyata ASN Pemkab Nganjuk Selama Pandemi

NGANJUK- Covid 19 bagi sebagian orang mungkin hanyalah virus yang mengakibatkan penyakit yang lumrah. Lumrah dalam artian pada orang dengan daya imunitas kuat dan stamina prima, meski terpapar potensi untuk sembuh sangatlah besar. Namun bagi orang yang memiliki riwayat penyakit bawaan tentunya menjadi berbahaya karena menjadi ancaman nyawa.

Judul diatas bukanlah sebuah kalimat hiperbola untuk membesar besarkan dampak Covid 19. Kisah itu benar benar dialami oleh Yoni Wahyudi seorang ASN Pemerintah Kabupaten Nganjuk yang setiap hari dinas di Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Nganjuk.

“Sejak pandemi, Saudara ayah saya sudah sembilan yang meninggal dunia. Ayah saya anak nomor satu, kesembilan adiknya meninggal hanya tinggal ayah saya dan adiknya yang bungsu, karena terpapar Covid 19” ungkap Yoni mengawali cerita ketika berbincang dengan pewarta media ini di Balai Desa Putukrejo Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk Jawa Timur, Sabtu 2 Oktober 2021

Menunggu : Mas Yoni ASN Humas Pemkab Nganjuk yang selalu menerapkan protokol kesehatan, ketika menunggu kedatangan Bupati Nganjuk H Marhaen Djumadi untuk dokumentasi kunjungan kerja (Agus)

Mas Yoni, begitu sapaan akrab ASN yang juga mahir bermain elektone ini menuturkan, saudara ayahnya meninggal karena terpapar Covid 19,“Namanya saudara kandung, ketika ada yang meninggal ayah saya bersikukuh untuk takziah. Tapi karena memang meninggal positif Covid 19, saya larang dan saat itulah Saya terpaksa bertengkar dengan ayah, karena beliau nekat mau takziah. Ayah salah paham dengan yang saya maksud, bagaimana protokol kesehatan itu,” tuturnya

Meski sampai terjadi selisih paham bahkan pertengkaran, lanjut Mas Yoni orang tuanya yang sudah berusia 72 tahun mengurungkan niatnya untuk takziah kerumah adiknya yang meninggal karena Covid 19, “Saya juga sempat ditanya, bagaimana kalau yang meninggal saudara kandung saya. Apakah tidak akan takziah juga. Saya sampaikan argumen sehalus mungkin yang penting ayah saya mengerti dan tidak sampai berangkat takziah, saya berikan pemahaman bagaimana cluster takziah itu, bagaimana prokes itu semua saya sampaikan,” katanya

“Dan ternyata memang benar, selang beberapa hari setelah takziah adik adik bapak saya juga sakit terpapar Covid 19 kemudian satu persatu meninggal dunia. Dan saat ini hanya tersisa ayah saya dan adiknya yang bungsu. Yang paling bungsu itu masih sehat karena saat ini berada di Tokyo Jepang, bersama keluarganya tidak berada di sini (Nganjuk,red),” imbuhnya

Meski tidak mau menjelaskan secara rinci, tentang nama orang tuanya. Nama saudara saudara orang tuanya yang meninggal kapan meninggalnya apakah tahun 2020 atau tahun 2021. Namun Mas Yoni tidak keberatan jika cerita tentang kisah keluarga besar ayahnya yang meninggal dunia karena Covid 19 dijadikan artikel akurasinews.com sebagai suatu informasi kepada masyarakat tidaklah keberatan

Bahkan secara pribadi, sebagai ASN dibagian Humas yang setiap hari harus mengikuti Bupati melaksanakan kegiatan kunjungan kerja dan mengetahui secara pasti informasi wilayah Kecamatan mana saja yang tinggi tingkat penularan Covid 19 Mas Yoni selalu mengajak orang lain untuk selalu menerapkan protokol kesehatan

“Saya selalu memakai masker itu rangkap dua. Mencuci tangan tidak dapat dihitung dalam sehari itu meskipun hand sanitizer selalu ada di tas kecil ini. Kita ngobrol seperti ini masker juga tidak pernah saya lepas. Dua atau tiga bulan kemarin teman teman juga tahu bagian humas semua positif Covid. Yang tidak terpapar hanya tiga orang termasuk saya. Yakinlah prokes sangat penting dimasa pandemi ini. Minum vitamin juga jangan ragu, kita tidak usah ketakutan yang berlebih, tapi menerapkan prokes sesuai anjuran pemerintah sangatlah penting, percayalah,” pungkasnya

Reporter : Agus

Editor     : Taufin A

 

 

Komentar

News Feed