oleh

Kejari Bersama IAD Nganjuk Gelar Baksos & Ziarah ke Makam Menteri Soepono

NGANJUK – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan ke 76 Tahun 2021 Kejari Nganjuk dan Pengurus IAD (Ikatan Adhyaksa Dharmakarini) Daerah Nganjuk melaksanakan Baksos dan ziarah petilasan makam Menteri Soepeno (Menteri Era Orde Lama/Kemerdekaan) yang berada di Dusun Ganter Desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk Jawa Timur.

Paket sembako pada rangkaian kegiatan ini diberikan kepada 25 orang lansia di Pendopo Agung Tanjung Bokor Desa Ngliman Kecamatan Sawahan,“Ini sebagai rangkaian kegiatan kejaksaan Negeri Nganjuk dalam memperingati hari pahlawan tahun 2021 ini, selain baksos dan ziarah makam Kejaksaan Negeri Nganjuk juga sudah mengagendakan kegiatan lain diantara lomba baca puisi dan donor darah,” ungkap Kejari Nganjuk Nophy Tennophero Suoth, SH, MH kepada pewarta media ini Sabtu 6 November 2021

Dalam kegiatan baksos tersebut, rombongan Kejari Nganjuk  Pengurus Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Kabupaten Nganjuk disambut oleh masyarakat dan pemerintah Desa Ngliman,“ Kita mengucapkan terimakasih kepada Kepala Desa Ngliman beserta perangkat yang telah berkenan memberikan tempat dan menyambut kami. Dengan pemberian Baksos ini diharapkan bisa membantu meringankan beban warga yang kurang mampu terutama para lansia yang terdampak pandemi Covid 19,” jelas Kejari

Imam Widodo selaku Kepala Desa Ngliman Sawahan menyampaikan terima kasih atas perhatian Kejaksaan Negeri Nganjuk, dia mengaku tersanjung atas perhatian dari Kejaksaan yang memberikan bantuan kepada warga terdampak sekaligus ziarah ke makam para pahlawan yang disemayamkan di Desa Ngliman

“Secara pribad sekaligus mewakili masyarakat Desa Ngliman dan perangkat desa saya sampaikan terima kasih yang sedalam dalamnya atas perhatian dan kepedulian pihak Kejaksaan dengan warga terdampak pandemi di desa ini. Semoga sinergi antara Kejaksaan dan Pemerintah Desa Ngliman kedepan menjadi lebih baik lagi,” tutur Imam Widodo

Kisah Pahlawan Soepono Hingga Dikebumikan di Ngliman Sawahan (Dari Berbagai Sumber)

Soepeno lahir di Pekalongan, salah satu kota pesisir di pantai utara Jawa Tengah, pada 12 Juni 1916. Ayahnya, Soemarno, adalah seorang pegawai rendah yang bekerja di perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda di Tegal.

Usai menamatkan sekolah menengah atas di Algemeene Middelbare School (AMS) Semarang, Soepeno melanjutkan pendidikannya ke Technische Hogeschool Bandung (cikal bakal ITB). Namun, baru 2 tahun, ia memilih pindah kuliah ke Recht Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum di Batavia.

Soepeno bergabung dengan Perkumpulan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), lalu terpilih sebagai ketua. Ia juga memimpin Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia (Baperpi) sejak 1941.Selama di Jakarta, Soepeno tinggal di asrama PPPI di Jalan Cikini Raya 71. Ia menjadi ketua pondokan tersebut. Di asrama itulah untuk pertama kalinya Soepeno bertemu langsung dengan Mohammad Hatta

Soepeno menikah dengan Kamsitin Wasiyatul Chakiki Danoesiswoyo. Hampir setahun berselang, pada Agustus 1943, pasangan ini dikaruniai seorang putri yang diberi nama Soepeni Joedianingsih. Soepeno ditunjuk Bung Hatta sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda dan mulai bertugas sejak pada 29 Januari 1948.

Tanggal 19 Desember 1948, Agresi Militer Belanda II dilancarkan. Sasaran utamanya adalah Yogyakarta, ibukota RI kala itu. Sukarno, Hatta, Sjahir, dan beberapa pemimpin republik lainnya ditawan, lalu diasingkan ke luar Jawa.

Beruntung, Soepeno dan beberapa pejabat tinggi negara lainnya selamat dari penangkapan. Namun, mereka harus bergerilya lantaran terus dikejar pasukan Belanda. Soepeno lolos karena sedang bertugas di luar Yogyakarta, tepatnya di Cepu, Jawa Tengah

Pada 20 Februari 1949, Soepeno dan kawan-kawan menjejakkan kaki di Dusun Ganter, Nganjuk. Di dusun ini, mereka menginap di rumah warga dan berniat menetap selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan yang entah kapan akan berakhir

Sudah tiga hari Soepeno dan lima rekannya singgah di Dusun Ganter. Pagi itu, 23 Februari 1949, mereka berniat meneruskan perjalanan menuju kaki Gunung Wilis untuk bergabung dengan pasukan gerilya Jenderal Soedirman.

Pada 24 Februari 1949 Soepeno dan lima rekannya sedang mandi di Dusun Ganter Desa Ngliman Kecamatan Sawahan namun saat itu ada pasukan Belanda yang kemudian menangkap mereka serta menembak mati Menteri Soepeno.

Jenazah Soepeno dan kawan-kawan dikebumikan di dusun tempat mereka dibunuh. Tepat setahun kemudian, pada 29 Februari 1950, jasad sang menteri dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan di Semaki, Yogyakarta. Pemerintah RI menetapkan Soepeno sebagai Pahlawan Nasional pada 13 Juli 1970

Reporter : Agus

Editor     : Taufin A

 

Komentar

News Feed