oleh

Tangis Haru Warnai Penghentian Penuntutan Terhadap Seorang Tersangka, Kajari : “Pihak Korban Memaafkan dan Si Tersangka ini Tulang Punggung Keluarga”

NGANJUK – Isak tangis mewarnai jalannya penghentian penuntutan terhadap seorang tersangka tindak pidana penganiyaan. Dasiyan tak kuasa menahan linangan air mata ketika Kepala Kejaksaan Negeri Nganjuk Nophy Tennophero Suoth SH.,MH melepas rompi tahanan yang dipakainya, Rabu 25 Mei 2022 di aula kantor Kejaksaan Negeri Nganjuk

“Jadi si tersangka ini baru kali pertama melakukan tindak pidana dan tersangka juga menyesali perbuatannya serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Selain itu, tersangka juga sudah meminta maaf kepada pihak korban dan keluarganya yang kemudian pihak korban sudah memaafkan. Dalam hal ini tersangka menjadi tulang punggung keluarga, itu yang menjadi alasan kami untuk menghentikan penuntutan,” ungkap Kajari usai pelaksaan restoratif Justice

Tangis Dasiyan yang semakin tak terbendung manakala anak semata wayangnya menjemputnya di halaman kantor kejaksaan Negeri Nganjuk. Tangisan dari ayah dan anak ini membuat jaksa penuntut umum (JPU) dan sejumlah staf kejari yang mengantar Dasiyan berkaca kaca, “Selain baru kali pertama melakukan tindak pidana, Dasiyan ini sudah bercerai dengan istrinya dan memiliki anak semata wayang berkebutuhan khusus yang ikut dengan dia serta ibu yang sudah tua,”jelas Kajari

Adapun peristiwa yang mengakibatkan Dasiyan berurusan dengan hukum berawal dari pekerjaan Dasiyan sebagai seorang satpam. Dimana antara Dasiyan sebagai tersangka dan Suwandha sebagai korban adalah rekan kerja satu perusahaan.Tersangka menuduh korban telah mencuri barang sampai akhirnya terjadi pemukulan pada tanggal 10 Maret 2022 sekitar pukul 15.00 WIB.

Sementara, Kepala Seksi Pidana Umum, Roy Ardiyan Nur Cahya SH.,MH menambahkan bahwa sesuai Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif pihak Kejari telah berupaya menciptakan harmonisasi di masyarakat.

“Sesuai perintah pimpinan bahwa Kejari Nganjuk berupaya menciptakan penyelesain berdasarkan hati nurani, dan menciptakan manfaat antara pelaku dan korban, dan inilah perwujudan dari restoratif justice,” jelasnya.

Roy juga menjelaskan Kejari Nganjuk baru pertama kali melakukan upaya restoratif justice yang telah disetujui oleh Jaksa Muda Tindak Pidana Umum. “Akan lebih elok ketika persoalan ringan diselesaikan tanpa melalui pengadilan,” ucap dia.

Bahwa sejak tingkat penyidikan terhadap tersangka dilakukan penahanan, setelah dilakukannya proses Restorative Justice oleh Kejaksaan Negeri Nganjuk dimana tersangka didampingi Penasehat Hukumnya dan Wanda selaku korban didampingi oleh orang tua beserta Penasehat Hukumnya.

Ketika saling dipertemukan tersangka dan korban telah saling memaafkan hingga berhasil mencapai kesepakatan perdamaian antara tersangka dengan korban serta keluarga korban kemudian Kepala Kejaksaan Negeri Nganjuk menerbitkan Surat Penetapan Penghentian Penuntutan (SP-3) terhadap perkara atas nama tersangka Dasiyan tersebut, selanjutnya Dasiyan dibebaskan dari penahanan dan dipertemukam dengan keluarga.

Reporter  : Bima

Reporter  : Taufin A

Komentar

News Feed